Suarakan Kebenaran Walaupun Pahit

Entries categorized as ‘Mualaf Bersaksi’

Kesaksian Halimahthun

July 17, 2008 · Leave a Comment

“…Di dalam kasih tidak ada ketakutan. Kasih yang sempurna mengusir ketakutan (serta rasanya) Kerana di dalam ketakutan ada siksa hukuman dan orang yang takut belum sempurna di dalam Kasih. Kita mengasihi sebab Tuhan Allah terlebih dahulu mengasihi kita. Jikalau seorang berkata : ‘Aku mengasihi Allah’ padahal dia membenci saudaranya, orang itu membohong. Kerana jikalau dia tidak mengasihi saudaranya yang dapat dilihat, maka tidak boleh dia mengasihi Allah yang belum pernah dilihatnya. Perintah ini kita kita peroleh dari Allah, yaitu bahawa orang yang mengasihi Allah, harus mengasihi saudaranya juga.”

Kitab Suci Injil al-Syarif, 1 Yahya 4 : 18 - 21 (Al-Kitab).

Assalamu’alaikum. Nama saya Halimahthun. Saya seorang wanita bumiputera Melayu asli, Muslimah Islam sejak dilahir di dalam keluarga Islam yang taqwa kepada Tuhan. Sejak muda lagi, saya belajar tentang hal-hal keagamaan dan ajaran-ajaran Islam secara rajin dan saya telah tegakkan rukun-rukun Islam dengan penuh azam, ikhlas dan kekusyukan.

Walaupun rasa khusyuk kepada Allah saya terasa pada mula-mulanya, lambat-laun pula saya telah mulai menanyakan akan bimbingan-Nya dan kebenaran kenyataan-kenyataan sifat-sifat Allah seperti Allah itu arrahman dan irrahim dan sebagainya. Walau begitu, saya tetap beriman kepadaNya dan cuba memberi peluang untuk ajaran-ajaran Islam diyakini di dalam jiwa dan hidup saya.

Setelah saya selesaikan pengajian tinggi saya di IPT, saya pun mendapat kerja yang cukup bagus dan memuaskan. Saya telah mendalami bidang perkerjaan saya dengan penuh minat dan yakin, kerana ini merupakan pengalaman baru sebagai tenaga kerja yang sebenar dan juga memperolehi ganjaran yang wajar daripada majikan saya.

Tidak lama kemudian, saya telah menemui bakal suami saya yang disayangi! Kami telah pun menikah dan berazam untuk mendirikan rumahtangga kami sendiri seperti semua keluarga yang baru dan penuh berharapan. Setahun kemudian, kami telah dianugerahi dengan cahaya mata dan saya penuh bersyukur kepada Tuhan atas hadiah kesayangan ini!

Kami telah membangun keluarga ini dengan penuh harapan dan bertanggung jawab! Akan tetapi, entah kenapa, tidak lama kemudian, beberapa masalah telah timbul yang pudarkan hidup kami sebagai keluarga yang baru dan mengancam harapan kami sebagai rumahtangga yang baru. Tiba-tiba, suami Islam saya telah merenggangkan perhubungan kami. Akibatnya tidak lama kemudian kami telah pun bercerai!

Pengalaman yang cukup pahit itu tidak mematahkan jiwa saya! Malah saya telah mencuba mendalami iman dan akidah keislaman saya dengan lebih giat lagi, misalnya membaca dan mencari jawapan-jawapan daripada al-Quran serta karya-karya alim ulamak yang membentangkan tentang Allah dan kebaikan-Nya, kasih sayang-Nya dan lain-lain.

Akan tetapi, semua bahan-bahan keislaman yang telah saya mencari itu tidak dapat menjawab soalan soalan saya mengenai kehidupan dan kasih-sayang yang sejati dan sebenar! Apakah Allah yang arrahman dan irrahim itu mengizinkan saya dan bekas suami saya untuk mendirikan bersama-sama satu rumahtangga dengan cahaya mata kami sendiri, dan sejenak dari itu merobohkan rumahtangga itu pula? Mengapa dan kenapa? Tidakkah Allah swt itu mengasihi kami sebagai suami-isteri dan boleh memeliharakan rumahtangga kami daripada kerosakan!?

Sesudah penyelesaian penceraian itu, dan sesudah puas cuba mencari jawapan daripada sumber-sumber Islam yang cukup banyak itu, saya pun berfikir: ‘Sehingga kini saya masih belum pernah merujuk kepada sumber-sumber agama Samawi yang lain, yaitu akidah-akidah lain yang juga mengesakan Allah yang Maha Kuasa itu!’ Saya terasa selama ini Allah adalah terlalu jauh dan ‘remote‘ untuk mahu mengambil tahu mengenai masalah-masalah dan kerinduan saya yang cukup perit itu! Soalan yang telah muncul untuk saya pada waktu itu ialah: ‘Adakah Tuhan seperti ini benar, serta ‘kasih-sayangNya adalah tulin dan sejati?’  Pada waktu itu saya telah pun menyimpan sejadah sembahyang serta telekung saya dan berhenti seketika amalan-amalan seperti itu!

Tidak lama kemudian, saya telah diundang teman baik saya, untuk pergi bersama-sama menonton Wayang ‘The Passion of the Christ’ (‘Kesengsaraan Al-Masih’). Saya tidak menyedari atau mengetahui bahawa cerita ini ialah mengenai Sayidina Rabbani Isa al-Masih, Kesengsaraan Baginda serta Kewafatan-Nya. Waktu itulah saya telah menyedari betapa perit, pahit dan dalamnya kesengsaraan yang telah diharungi Almasih Isa Putera Maryam itu! Air mata saya mengalir tanpa berhenti-henti dan saya menangis bersedu-sedu semasa menyaksikan betapa besar dan dalamnya kasih-sayang AlMasih Isa itu untuk segala bangsa dan seluruh umat manusia, termasuk musuh-musuhNya sendiri!

Sejak saat itu saya pun telah sedar bahawa pencarian saya sudah pun termakbul! Tak usahlah saya mencari dan merayu di tempat-tempat yang lain, Kasih sayang yang sejati dan yang seratus peratus tulin itu ada pada Al-Masih Isa sahaja! Saya pun mengkaji Kitab Suci Injil Syarif dengan minda dan hati yang terbuka, tanpa dikongkong oleh prasangka dan buruk-sangka kesialaman terhadap akidah umat Nasrani yang cukup tipikal itu!

Aman-damai, kesejahteraan dan pelepasan rohani yang menyusul di dalam kehidupan saya setelah saya memeluk ajaran Isa Al-Masih yang indah itu tidak dapat diungkapkan keindahan dan kepuasannya dalam kata-kata manusia! Sebelum ini semua saya tidak pernah insaf akan keperluan saya untuk diampunkan dan dihilangkan semua hukuman dan hambatan dosa-dosa saya.itu. Sekarang saya sudah faham apa yang dimaksudkan Rabbiku Sayidina Isa, “jika seseorang ingin masuk Syurga, dia haruslah dilahirkan kembali (atau semula)! (KS Injil, Yahya fasal 3:1-4, 5-16).Syukur Alhamdulillah!

Saya mengundang saudara dan saudari semua! Silalah mengkaji bagi diri anda sendiri, Siapakah itu AlMasih Isa, Putera Maryam! Abaikanlah prejudis dan prasangka lazim yang didakyahkan ramai orang itu – yang tidak berasas, lagi penuh dengan fitnah ! Bacalah Al-Kitab dan Kitab Suci Injil Syarif yang mengandungi sirah Sayidina Rabbani Isa yang sah dan sebenar. Sejarah telah membuktikan bahawa peristiwa penyaliban Al-Masih Isa Putera Maryam itu, 2,000 tahun yang lalu adalah satu hakikat dan fakta sejarah yang telah betul-betul berlaku yang tidak dapat disangkalkan oleh mana-mana pihak.

Inillah sabda Al-Masih Isa kepada para rasul-rasul-Nya, lebih 2,000 tahun yang lalu :

“Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seseorang yang menyerahkan nyawanya untuk berkorban bagi sahabat-sahabatnya.”

KSI, Yahya 15 ayat 13.

Dan itulah yang telah disempurnakan oleh Baginda bagi sahabat-sahabatnya dan itulah juga telah Dia lakukan tanpa syarat untuk anda dan saya, supaya kita semua dapat tahu dan menghayati apakah itu kasih-sayang yang sebenar, tulin lagi sejati – yang Allah Sendiri telah menganugerahkan kepada manusia sejagat untuk selama-lamanya!

Categories: Mualaf Bersaksi
Tagged:

KESAKSIAN DRS. A. PURNOMO W

July 17, 2008 · Leave a Comment

Assalamu’alaikum Wrbkth.

Sebenarnya hanya sedikit sekali ayat-ayat Al Qur’an yang saya pahami sebelum bulan Mei 1993 walaupun saya telah menunaikan rukun Islam yang kelima, menunaikan ibadah Haji yang saya lakukan pada tahun 1983. Ayat-ayat Al Qur’an yang saya hafal bacaannya diluar kepala walaupun tidak paham mengenai artinya ialah ayat-ayat Al Qur’an yang selalu diucapkan pada waktu sembahyang lima waktu yaitu surat 1 Al- Faatihah yang merupakan surat hafalan wajib dan surat-surat lainnya diantaranya surat 112 Al Ikhlaash, surat 113 Al Falaq, surat 114 An Naas dan surat 108 Al Kautsar.

Keinginan saya untuk mengetahui dan memahami lebih dalam lagi tentang isi buku Al Qur’an itu barulah timbul setelah Tuhan Yesus/Sayidina Rabboni Isa Al-Masih menjamah saya secara ajaib pada tanggal 6 Mei 1993 di Kupang. Karena saya tidak menguasai bahasa Arab seperti halnya sebagian besar umat Islam di Indonesia, maka saya mempelajari buku Al Qur’an yang ada terjemahan bahasa Indonesianya yaitu buku Al Qur’an Terjemahan Indonesia P.T. Sari Agung.

Keinginan saya yang sangat mendesak untuk mempelajari isi buku Al Qur’an ini disebabkan karena saya harus mencari jawaban terhadap peristiwa yang saya baru alami di Kupang dimana saya telah dijamah Tuhan Yesus(yakni Sayidna Rabboni Isa Al-Masih) secara ajaib dan saya ingin menyakinnya bahawa memang Yesus/Sayidina Isa dan bukan setan atau thogut yang telah menjamah saya secara ajaib itu.

Setelah tiga minggu saya meniliti dan mempelajari buku Al Qur/an tersebut barulah saya memperoleh pengertian yang sebenarnya tentang siapa yang dimaksudkan dalam buku Al Qur’an sebagai Allah dan siapa saja yang akan menerima pahala dan yang akn diselamatkan yang akan masuk sorga. Untuk selanjutnya perkenankanlah saya memberikan kesaksian saya bagaimana Sayidina Isa Al-Masih/Yesus telah menjamah saya.

A. JAMAHAN SAYIDINA ISA/YESUS YANG AJAIB.

Pada suatu hari saya harus mengantarkan seorang mitra usaha saya yang berkebangsaan Amerika, ke Kupang untuk bertemu dengan seorang yang di sekitar tahun 1973 pernah mati dan hidup kembali pada hari ke enam. Orang Amerika tersebut bernama Loduvicus Alexander suami dari kemenakan istri saya yang baru bertobat dan masuk sekolah Teologia Fuller di California, USA. Dia mendapat tugas dari sekolahnya untuk membuat dokumentasi dari orang yang pernah mati dan hidup kembali tersebut dan saya bertindak sebagai penerjemahnya. Pada tanggal 5 Mei 1993 kami berdua tiba di Kupang melalui Darwin, Australia.

Di Bandara, kami dijemput oleh Urias Bait, dosen Universitas Nusa Cendana Kupang dan seorang ibu bernama M.T. Nalle Octavianus seorang pengusaha kontraktor di Kupang yang selanjutnya mengantarkan kami ke Hotel Wisma Cendana Kupang.

Kami memberitahukan maksud kedatangan kami kepada mereka. Untuk maksud ini maka M.T. Nalle berusaha mencari informasi mengenai hal ihwal orang yang pernah mati dan hidup kembali tersebut. Setelah memperoleh informasi seperlunya, maka pada petang harinya M.T. Nalle disertai beberapa orang lainnya mengantarkan kami ke So’e untuk bertemu dengan salah seorang pendeta yang tertua di pulau Timor bagian barat (NTT) yang bernama pendeta Manuian yang diharapkan mengetahui hal ihwal orang yang pernah mati dan hidup kembali tersebut. Oleh pendeta Manuian disarankan agar kami kembali ke Kupang karena orang yang pernah mati tersebut adalah seorang perempuan yang bernama Silva Obed dan suaminya bernama Lazarus tinggal di kampung Amfoang yang hanya bisa dihubungi melalui jalan laut yaitu naik motor boat atau perahu layar dari Kupang. Jika naik motor boat minimal 2 jam lamanya diperjalanan. Maka pada malam hari itu kami kembali ke Kupang.

Mengingat L. Alexander tidak sanggup melakukan perjalanan melalui laut dengan motor boat atau perahu layar karena sering mabuk laut dan muntah-muntah maka kami merencanakan untuk mencari seorang yang mengetahui alamat Silva Obed agar menjemput Silva Obed dari kampung Amfoang dengan motor boat yang akan kami charter atau sewa. Esok harinya tanggal 6 Mei 1993, kami mendapatkan informasi dari G.J. Koamesah-Rondo, sahabat dari Urias Bait bahawa Silva Obed beserta suaminya sering singgah dirumah adiknya yang bernama Richard Rondo, yaitu pada waktu-waktu Silva Obed melakukan perjalanan melayani Tuhan di Kupang. Oleh sebab itu pada petang harinya rombongan kami datang mengunjungi rumah Richard Rondo di Bakunase yang terletak di pinggir kota Kupang dan kami diterima diruang depan yang telah dilapisi oleh tikar disamping adanya beberapa kursi. Kepada Richard Rondo kami jelaskan maksud kedatangan kami dan memohon bantuannya agar dia dapart menjemput Silva Obed beserta suaminya dengan motor boat sewaan yang biaya perjalananya kami sediakan sejumlah Rp. 1,000,000 – (satu juta rupiah).

Richard Rondo merasa perlu untuk menceritakan peristiwa mujizat yang dialami oleh Silva Obed dan suaminya Lazarus pada sekitar tahun 1973. Keluarga Lazarus adalah petani miskin yang hanya hidup dari bercocok tanam. Pada suatu hari setelah mereka berdua selesai bekerja diladang dan hendak berangkat pulang ke rumahnya Silva Obed mendengar suara Tuhan yang bepesan bahwa ia akan mati pada keesokan harinya tetapi akan dipakai Tuhan untuk melayani orang-orang disekitarnya untuk memberitakan khabar keselamatan dan agar orang-orang tersebut bertobat karena sebagian besar dari mereka belum mengenal Tuhan. Oleh sebab itu jika Silva Obed mati maka ia tidak boleh dikuburkan dan merupakan tugas suaminya untuk hanya membaringkannya di bale-bale dan dijaga selama lima hari dengan berdoa terus-menerus. Ternyata Silva Obed benar-benar meninggal dunia pada keesokan harinya dan Lazarus segera melaporkan ke RT/RW mengenai suara yang hanya didengar oleh isterinya dan yang berpesan kepadanya untuk tidak dikuburkan bila ia mati karena ia akan dibangkitkan kembali pada hari ke enam.

Tentu saja peristiwa ini menggemparkan masyarakat Amfoang terlebih lagi setelah tiga hari dibaringkan di bale-bale dan suaminya terus-menerus berdoa disampingnya, tubuh Silva Obed mengeluarkan cairan yang sangat busuk baunya sehingga lurah memerintahkan kepada Lazarus untuk segera menguburkan Silva Obed istrinya itu agar tidak terjadi kehebohan di kampung Amfoang.

Walaupun lurah dan camat mendesak agar Silva Obed segera dikuburkan tetapi suaminya Lazarus tetap tidak mau melaksanakannya karena dia sudah berjanji kepada isterinya untuk melaksanakan pesan Tuhan sampai Silva Obed dibangkitkan pada hari ke enam. Akhirnya lurah dan camat dapat memahami sikap Lazarus, tetapi tetap memperingatkannya, kalau pada hari ke enam Silva Obed tidak hidup kembali harus dikuburkan. Ternyata pada hari ke empat cairan yang keluar dari tubuhnya mulai berhenti dan bau busuknya mulai berkurang dan pada hari ke lima keadaan tubuhnya sudah tidak basah lagi dan tidak lagi mengeluarkan bau busuk. Pada hari ke enam di pagi sekitar jam 04.00 waktu setempat terjadilah keajaiban dan mujizat yang menakjubkan Silva Obed bangkit dan hidup kembali sedangkan suaminya masih tertidur disamping bale-bale, yang menunggu dengan setia.

Akhirnya masyarakat turut kagum dan mengucap syukur atas peristiwa yang sungguh ajaib itu.

Sejak itu Silva Obed, walaupun buta huruf dapat memberitakan firman Tuhan sesuai Alkitab dalam bahasa asli daerah Timor dan melayani Tuhan, disertai suaminya menuiarkan bertia keselamatan bagi penduduk sekitarnya sampai ke Kupang.

Kemudian lima tahun yang lalu, sekitar tahun 1988 Silva Obed beserta suaminya untuk pertama kalinya singgah di rumah Richard Rondo dan pada saat itulah putri dari Richard Rondo yang bernama Gloria Pricila menerima anugerah berupa karunia penglihatan, karunia pendengaran dan bahkan dapat memahami keseluruhan isi AlKitab walaupun anak perempuan tersebut baru berusia 11 tahun. Demikianlah cerita singkat yang disampaikan oleh Richard Rondo kepada kami tentang Silva Obed dan suaminya Lazarus dan anugerah karunia yang diterima putrinya Gloria Pricila.

Setelah itu Richard Rondo beserta seluruh keluarganya termasuk Gloria Pricila memohon diri kepada kami untuk melakukan doa di ruang dalam. Suara nyanyian pujian terdengar dari ruang dalam sampai ruang depan dimana kami berada. Dan untuk pertama kalinya saya baru mengetahui bahwa sebelum orang Kristen berdoa, mereka mengangkat lagu pujian terlebih dahulu. Setelah selesai berdoa Richard Rondo keluar dari ruang dalam diikuti seluruh keluarganya sambil berseru bahwa Roh Kudus akan mengarahkan Silva Obed dan suaminya berangkat dari Amfoang ke Kupang keesokan harinya. Tentu saja berita ini merupakan berita yang aneh bagi saya, lalu segera saya tanyakan kepada Richard Rondo apa yang dimaksudkannya dengan Roh Kudus yang akan mengarahkan mereka dari Amfoang ke Kupang dan siapa Roh Kudus itu? Kemudian Richard Rondo

sekali lagi menjelaskan kepada saya bahwa melalui berita Tuhan yang diterima Gloria Pricila maka Roh Allah akan menggerakkan mereka untuk datang ke Kupang dan dijelaskan juga bahwa Roh Kudus adalah Roh Allah sendiri.

Setelah dengar terheran-heran saya mendengarkan penjelasan Richard Rondo maka saya terjemahkan berita itu kepada L. Alexander dan diapun tertawa sambil berkata bahwa hal ini adalah peristiwa yang luar biasa karena walaupun tidak ada hubungan telepon tetapi berita yang begitu cepat telah dapat disampaikan melalui Roh Kudus.

Kemudian Richard Rondo memohon lagi untuk berdoa mengucap syukur karena Roh Kudus telah campur tangan menuntun Silva Obed dan suaminya untuk datang ke Kupang. Tetapi kali ini acara doa tidak dilakukan diruang dalam melainkan tetap dilakukan diruang depan, dimana kami semua berada. Karena mereka semua akan berdoa, sedangkan saya bukan orang Kristen maka saya bersiap-siap untuk keluar ruangan dan pandangan mata saya menuju ke luar yang ternyata hari sudah malam dan gelap. Pada waktu saya ragu-ragu untuk keluar karena di luar sangat gelap maka Richard Rondo menawarkan kepada saya untuk tinggal saja di ruangan itu dan duduk di ujung ruangan yang ada kursinnnya. Sayapun langsung duduk di kursi yang ada di sudut dan mengamati dengan tenang apa yang akan mereka lakukan dalam doa tersebut. Setelah itu Richard Rondo memulai memimpin doa syukur dengan terlebih dahulu mengangkat lagu-lagu pujian dan penyembahan. Baru saja Richard Rondo memulai dengan doanya maka sekonyong-konyong Gloria Pricila yang mempunyai karunia penglihatan dan pendengaran mengucapkan dengan lantang sambil memejamkan matanya dengan kepala tertunduk kebawah banyak malaikat turun ke ruangan itu bahkan ruangan itu hampir penuh dengan malaikat. Dengan adanya berita mengenai turunnya malaikat maka seluruh hadirin yang ada di situ menundukkan kepalanya dan satu orangpun tidak ada yang berbicara kecuali Gloria Pricila yang terus menyebutkan tentang kehadiran para malaikat.

Selanjutnya Gloria Pricila memberitahukan bahwa Yesus/Sayidina Isa telah datang dan berada di tengah-tengah mereka, kemudian seluruh hadiran secara serempak sujud dengan mukanya dirapatkan ke lantai tikar. Saya yang sejak tadi mengamati dan ikut mendengar semua ucapan Gloria Pricila sebenarnya takjub melihat semua yang terjadi dan saya terus melihat ke atas dan ke sekeliling ruangan dengan harapan saya dapat melihat Yesus dan para malaikatNya, tetapi saya tidak melihat apa-apa kecuali yang saya lihat hanyalah seluruh hadirin sujud dengan muka merapat ke lantai dan Gloria Pricila yang duduk dengan menundukkan kepalanya dan terus mengucapkan tentang kehaidran Yesus. Sementara itu Yesus menghampiri L. Alexander dan memberkatinya karena dia akan membuat dan menyusun dokumentasi mengenai kuasa Tuhan yang hidup yang dinyatakan melalui peristiwa ajaib yang dialami oleh Silva Obed agar orang-orang di Amerika tahu bahwa Tuhan menyatakan kuasaNya sampai sekarang.

Setelah Yesus/Isa A.M. memberkati L. Alexander maka Yesus berjalan ke tengah-tengah ruangan kemudian melihat saya yang sedang duduk di sudut ruangan. Saya terkejut ketika Gloria Pricila menyebut nama saya, maka saya terus mengamati Glori Pricila yang tetap menundukkan kepalanya ke bawah dengan mengucapkan apa yang dilakukan oleh Yesus/Sayidina Isa a.s. Sambil memandang saya Yesus/Isa datang menghampiri saya dan berdiri di hadapan saya sedangkan saya tetap mengamati Gloria Pricila sambil sekali-sekali melihat ke sekeliling saya dengan harapan saya dapat melihat Baginda. Tetapi ternyata saya tetap tidak melihat apa-apa. Setelah Yesus/Sayidina Isa berdiri di hadapan saya maka Yesus/Sayidina Isa membuka telapak tangan kanan yang menunjukkan angka sepuluh, kemudian membuka telapak tangan kiri yang menunjukkan huruf tanda tanya yang besar. Sejenak Yesus/Isa A.M. memperhatikan telapak tangan kiri tersebut, kemudian Yesus menutup kembali telapak tangan kanan yang di susul dengan menutup telapak tangan kiri. Segera setelah telapak tangan kiri ditutup maka terasa ada benda yang jatuh di atas kepala saya sehingga saya berusaha menoleh ke atas untuk mengetahui apa gerangan yang terjatuh di atas kepala saya, tetapi ternyata saya tidak bisa menggerakkan kepala saya bahkan tangan saya yang ingin meraba kepala saya pun seolah-olah terikat tidak bisa bergerak. Kemudian benda yang terjatuh di atas kepala saya tersebut lambat laun terasa merupakan pegangan tangan yang mencengkeram kepala saya yang pegangannya makin lama makin keras sehingga mulai terasa sakit dan seolah-olah kuku jarinya di tekankan di kepala saya. Di saat itu saya mulai takut karena saya telah merasakan ada sentuhan dan pegangan yang dengan kuatnya mencengkeram kepala saya tetapi wujud tubuhnya sama sekali tidak kelihatan. Sementara itu Gloria Pricila tetap menyebutkan bahwa Yesus berdiri di hadapan saya. Saya mulai berfikir apa gerangan kehendak Yesus/Isa untuk menyakiti kepala saya. Kemudian terlintas di pikiran saya yaitu jika yang mencengkeram kepala saya hingga terasa sakit sekali ialah Yesus maka saya akan berserah diri kepada Yesus. Oleh sebab itu saya berbisik di dalam hati saya demikian: “Jika memang Engkau Yesus atau Sayidina Isa yang berdiri di hadapanku dan mencengkeram kepalaku hingga terasa sakit sekali ini maka aku akan menyerahkan diriku kepadaMu.” Segera setelah bisikan saya selesai saya ucapkan, maka saya merasakan bahwa cengkeraman tangan Yesus/Isa Al-Masih dilepaskan dan beban sakit pun hilang hingga perasaan lega pun timbul. Tetapi ternyata Yesus masih berdiri di hadapan saya dan sekali lagi membuka telapak tangan kanan yang menunjukkan angka sepuluh dan menyusul membuka lagi telapak tangan kiri yang tadinya menunjukkan huruf tanda tanya besar tetapi sekarang juga menunjukkan angka sepuluh, kemudian Yesus menumpangkan tanganNya ke atas kepala saya dan saya diberkati. Setelah itu, Yesus pergi dari ruangan itu di ikuti oleh seluruh malaikat.

Sementara itu saya menjadi gelisah karena memikirkan pernyataan saya yang berserah diri pada Yesus. Mengapa harus saya nyatakan demikian, padahal saya bukan orang Kristen, selain itu sayapun merasa telah mengkhianati agama saya sehingga keadaan saya pada saat itu disamping merasa lega karena dibebaskan dari cengkeraman tangan yang menyakitkan sekaligus berada dalam pikiran yang kacau balau.

Setelah seluruh malaikat meninggalkan ruangan itu maka para hadirin tidak lagi sujud tetapi kembali duduk seperti semula dan semua pandangan mata mereka tertuju pada saya, sedangkan Richard Rondo langsung bertanya kepada saya mengapa huruf tanda tanya yang besar di telapak tangan kiri berubah menjadi angka sepuluh. Pada saat itu saya sebenarnya berada dalam keadaan yang tertekan karena mempunyai perasaan bersalah sebagai telah mengkhianati agama saya(Islam). Saya pun langsung menanyakan kepada Richard Rondo tentang arti angka sepuluh yang dijawabnya bahwa angka sepuluh adalah angka yang tertinggi bagi orang Kristen. Kemudian saya pun menceritakan apa yang terjadi terhadap diri saya pada waktu Gloria Pricila menyebutkan bahwa Yesus/Isa A.M. menutupkan telapak tangan kiri. Dia tetap berdiri di hadapan saya, dan pada waktu itu terasa ada yang mencengkeram kepala saya sampai terasa sakit sekali yang baru dilepaskan dari cengkeraman tangan tersebut setelah saya mengucapkan dalam hati saya bahwa saya menyerahkan diri saya pada Yesus/Sayidina Isa. Dan dengan keterangan saya tersebut Richard Rondo berseru: “HALELUYA, Pak Purnama telah menerima Yesus.

Langsung saya menjawab bahwa saya tidak menerima Yesus karena saya sendiri tidak begitu menyadari mengapa keluar dari hati sanubari saya ucapan bahwa saya berserah diri kepada Yesus/Isa A.M. dan ternyata pernyataan tersebut telah membebaskan saya dari cengkeramanNya yang dahsyat. Dalam keadaan perasaan yang gelisah saya minta agar kami segera pulang ke hotel karena saya merasa letih dan perlu istirahat.

Keesokan harinya sekitar jam empat pagi waktu setempat saya telah bangun dan bermaksud melakukan sembahyang subuh. Tetapi pada saat itu terlintas dalam ingatan saya peristiwa yang terjadi terhadap diri saya kemarin malam tentang bagaimana dahsyatnya tangan Yesus/Isa mencengkeram kepala saya dan masih terngiang-ngiang ucapan Richard Rondo bahwa saya telah menerima Yesus. Oleh sebab itu timbul perasaan takut kalau-kalau Yesus/Isa datang lagi sedangkan saya hanya seorang diri berada di kamar hotel. Setelah berfikir sejenak maka saya tetap berniat untuk melakukan sembahyang subuh dan langsung mencari sajadah saya (Tikar sembahyang dari bahan permadani) yang seingat saya, saya letakkan di atas kursi hotel. Tetapi sajadah tersebut setelah saya cari di kursi, kemudian dalam kopor dan dalam lemari pakaian ternyata tidak saya ketemukan. Menurut hemat saya tidak mungkin sajadah itu hilang begitu saja, tentunya ada orang yang menyembunyikannya. Pikiran saya segera tertuju kepada L. Alexander bahwa dialah yang menyembunyikan sajadah saya tersebut karena dia pernah mengatakan mengapa saya harus mencari arah kiblat terlebih dahulu sebelum melakukan sembahyang. Hal ini dikatakan pada waktu di Darwin ketika dia masuk ke kamar saya di hotel sewaktu saya sedang mencari arah kiblat dengan mempergunakan kompas. Dia juga mengatakan bahwa jika orang Kristen melakukan sembahyang atau berdoa mereka bebas menghadap kemana saja tidak terikat oleh suatu arah, oleh sebab itu dia merasa sedih melihat saya karena harus bersusah payah menentukan arah kiblat terlebih dahulu sebelum melakukan sembahyang. Perkataan L. Alexander tersebut sangat menyinggung perasaan saya dan langsung saya katakan kepadanya agar jangan sekali-kali menyinggung agama saya dan jika dia sekali lagi mengatakan hal yang demikian maka saya akan pulang ke Jakarta dan dia saya persilahkan mencari penerjemah lainnya.

Karena pengalaman itu saya telah mencurigai L. Alexander, maka saya segera keluar dari kamar saya dan menuju kamar L. Alexander yang letaknya tidak jauh dari kamar saya dan langsung mengetuk-ngetuk pintunya. Sambil terkejut dia terbangun dan bertanya “Mengapa membangunkan saya sepagi itu?” Kemudian saya bertanya apakah dia yang menyembunyikan sajadah saya dan dia menjawab bahwa sejak saya pernah marah karena pembicaraan arah kiblat, maka sejak itu dia tidak pernah lagi masuk ke kamar saya maupun mengambil sesuatu termasuk sajadah saya.

Oleh sebab itu sayapun segera melaporkan kepada reseptionist hotel dan mengajukan keluhan bahwa barang saya dikamar ada yang hilang. Kemudian reseptionist menanyakan kepada saya “..barang apakah yang hilang dari kamar anda?” Saya jawab bahwa sajadah saya hilang dari kamar. Lalu sambil menertawakan saya, reseptionist itu berkata bahwa dihotel ini tidak pernah terjadi peristiwa kehilangan uang ataupun barang lainnya dari kamar tamu apalagi sajadah yang tidak ada nilainya. Mendengar bahwa sajadah saya tidak ada nilainya, maka saya pun tersinggung lalu marah dan membentak reseptionist tersebut sambil berkata bahwa sajadah tersebut sangat tinggi nilainya karena dipergunakan untuk sembahyang. Melihat keadaan saya yang marah itu maka reseptionist tersebut segera meminta maaf dan berjanji akan mencarinya dengan jalan menanyakan seluruh karyawan yang bekerja di hotel tersebut. Dan ternyata setelah staf hotel mencarinya maka tidak seorangpun yang mengambil dan melihat sajadah saya.

Kemudian pada siang harinya kami datang kerumah Richard Rondo untuk menanyakan berita selanjutnya mengenai Silva Obed dan suaminya. Richard Rondo mengatakan bahwa telah diterima berita melalui Gloria Pricila bahwa pagi sewaktu Silva Obed dan suaminya bersiap-siap untuk berangkat dari kampung Amfoang ke Kupang mereka telah di tahan oleh keluarga yang anaknya sedang menderita sakit jiwa dan meminta agar Silva Obed menyembuhkan anaknya yang sedang sakit jiwa tersebut supaya dapat kembali waras. Oleh sebab itu kedatangan Silva Obed ke Kupang mengalami penundaan dan baru diharapkan sampai ke Kupang setelah beberapa hari kemudian.

Ketika saya memberitahukan kepada Richard Rondo bahwa saya telah kehilangan sajadah pada pagi ini, dia pun memberi komentar bahwa karena saya sudah menerima Yesus/Isa A.M. maka saya tidak perlu lagi sembahyang di atas sajadah tersebut oleh sebab itu saya pun tidak perlu memiliki sajadah. Justru komentar itu yang membuat saya gelisah dan keinginan yang begitu mendesak untuk mengetahui siapa Yesus/Sayidina Isa A.M.itu sebenarnya yang telah mencengkeram kepala saya dengan dahsyat.

Karena tertundanya kedatangan Silva Obed beserta suaminya ke Kupang, maka saya putuskan untuk segera pulang ke Jakarta dan memberitahukan L. Alexander agar tinggal saja di Kupang menunggu sampai tibanya Silva Obed dan suaminya sedangkan penerjemah sebagai ganti saya dapat dilakukan oleh Urias Bait Dosen dari Universitas Nusa Cendana Kupang yang telah bersedia bertindak sebagai penerjemah. Tetapi karena perasaan solider terhadap saya maka kami sama-sama pulang ke Jakarta, tetapi kemudian L. Alexander pergi lagi ke Kupang setelah Silva Obed dan suaminya tiba di Kupang.

Segera setelah saya berada kembali di Jakarta, saya mulai mencari informasi untuk mengungkapkan siapa sebenarnya Yesus/Isa Al-Masih itu. Kepada teman-teman saya, saya ceritakan peristiwa terhadap diri saya di Kupang dan pada umumnya mereka mengatakan bahwa saya telah dijamah oleh setan-iblis bahkan ada yang menertawakan saya karena menurut kata mereka Yesus/Sayidina Isa A.M. adalah nabi Isa AS yang sudah lama meninggalkan Dunia.

Akhirnya saya memutuskan untuk menelitinya dari buku Al Quran dengan pemikiran bahwa jika di dalam buku Al Quran tidak dapat diungkapkan siapa sebenarnya Isa Al-Masih/Yesus itu maka yang menjamah saya memang setan-iblis tetapi, jika dari kitab Al Quran dapat diungkapkan siapakah Yesus/Sayidina Isa A.M. itu maka saya percaya dan yakin bahwa yang menjamah saya di Kupang pada waktu itu adalah benar-benar Yesus/Isa Al-Masih dan saya akan konsekwen berserah diri kepadaNya.

B. AYAT-AYAT AL QUR’AN YANG MENYELAMATKAN

Mulai dari tanggal 12 Mei 1993 saya mulai dengan intensif mempelajari buku Al Qur’an terjemahan Indonesia, terbitan PT. Sari Agung, tertanggal 2 Oktober 1991. Saya mempelajari Al Qur’an dengan ada terjemahan bahasa Indonesianya karena saya sendiri tidak menguasai bahasa Arab. Setelah lebih seminggu saya pelajari dengan intensif amak saya menemukan ayat Al Qur’an yang menyatakan bahwa Isa Putra Maryam diberkati dengan pelbagai mujizat. Oleh sebab itu, Dia dapat menyembuhkan orang buta, orang sakit lepra dan menghidupkan orang yang sudah mati.

Pada saat itu pula saya merasa sakit kepala dimana rasa sakitnya hampir menyamai rasa sakit pada waktu kepala saya dicengkeram oleh tangan Yesus/Sayidina Isa Al-Masih di Kupang. Maka saya segera berdoa dan memohon kepada Isa a.s. agar Dia menyembuhkan sakit kepala saya karena menurut saya Al Qur’an Dia dapat menyembuhkan penyakit yang lebih berat lagi yaitu lepra. Tetapi doa saya tidak terkabul karena rasa sakitnya masih tetap saja. Kemudian untuk kedua-kalinya saya berdoa dan rasa sakitnya tetap saja bahkan sakitnya lebih parah. Akhirnya saya berpikir mungkin cara berdoa saya yang salah dan terlintas dalam ingatan saya bahwa pada waktu di Kupang orang-orang Kristen berdoa dengan menyebut nama Yesus yaitu nama Sayidina Rabboni Isa Almasih. Oleh sebab itu untuk ketigakalinya saya berdoa tetapi sekarang dengan menyebut nama Yesus Kristus dan memohon kepadaNya untuk kesembuhan sakit kepala saya. Segera setelah ucapan doa saya selesai, maka sakit kepala saya terasa diangkat perlahan-lahan sehingga sakitnya pun hilang sama sekali dan terasa seluruh tubuh dipulihkan kembali sehingga menjadi segar bugar. Air mata saya berlinang karena saat itulah saya yakin bahwa nama Yesus itu adalah nama Dia yang hidup, yang telah mendengarkan doa saya.

Kemudian saya terus mempelajari ayat-ayat- Al Qur’an sampai saya menemukan ayat-ayat- Al Qur’an yang sangat menentukan bagi saya untuk menerima Yesus dan penelitian saya berakhir pada tanggal 28 Mei 1993 dengan diketemukannya ayat-ayat penting yang perlu saya ketahui antara lain ayat-ayat yang menyatakan:

- Al Qur’an adalah bagian dari Alkitab

(Az Zukruf ayat 4)

- Al Qur’an membenarkan berlakunya Taurat dan Injil
(surat-surat Al Baqarah, Aali Imraan, An Nisaa, dll)

- Al Qur’an ditujukan untuk bangsa Arab yang berbahasa Arab

(Fushshilat ayat 3)

- Muhammad bukan penolong dan penyelamat melainkan seorang yang memberi peringatan

(Az Zumar ayat 19. Al Baqaroh ayat 119)

- Atas perintah/firman Allah, Isa Almasih putra Maryam adalah orang yang paling atas kedudukannya di dunia dan akhirat.

(Aali Imraan ayat 45)

- Umat Nasrani/Ahli Kitab yang beriman masuk syurga

(Al Maidah ayat 65)

Kemudian setelah ditemukan ayat yang sangat menetukan bagi saya yaitu:

- Isa Almasih adalah petanda bagi kiamat, oleh sebab itu ikutlah dan taatlah kepada Isa Al-Masih karena inilah jalan yang lurus.

(Az Zukhruf ayat 61 dan ayat 63),

maka saya ambil keputusan bahwa yang menjamah saya di Kupang dengan dahsyat adalah Yesus/Sayidina Isa Al-Masih Oleh sebab itu saya konsekwen menerima Yesus dengan sukacita dan akhirnya telah dibaptis pada tanggal 30 Mei 1993. Adapun mengenai pengungkapan yang lebih terperinci mengenai Al Qur’an, Allah, Muhammad, Isa Almasih dan para pengikutnya (Umat Nasrani) dapat dilihat daripada rencana-rencana dan makalah-makalah yang ditampil di dalam Laman Web ini.

Wassalammu’alaikum Wr. Wb.

Jakarta, 30 Mei 1993

Penyusun

Drs. A. Purnama W.

Categories: Mualaf Bersaksi
Tagged:

Kesaksian Dadang Murtala

July 17, 2008 · Leave a Comment

Dulu nama saya Dadang Murtala, berdarah Sunda asli, lahir di Bandung tanggal 14 Januarl 1951. Saya 9 bersaudara 5
perempuan, 4 laki-laki, saya paling kecil tapi paling berandal. Dalam tahun 1970 saya ke Banten. Berguru di pesantren
untuk mendapatkan ilmu kekebalan tubuh dan menjinakkan hewan-hewan berbisa.

Pada akhir pelajaran saya diwajibkan membaca Al Qur’an dari permulaan, surat Al Fatihah, sarnpai dengan surat terakhlr, surat
An Nas, hanya dalam beberapa jam. Sesudah itu saya harus puasa tiga hari dan pada hari ketiga tidak boleh tidur sama sekali.Akhirnya saya harus mengucapkan mantra khusus sebanyak seribu kali, sesudah itu saya dinyatakan siap bertempur.

Rambut saya panjang, 110 cm, terpaksa saya biarkan memanjang, karena tidak ada gunting dan tidak ada pisau yang bisa digunakan untuk memotong rambut saya. Saya masuk dalam ruangan kaca yang sudah penuh dengan 400 ekor ular-ular berbisa, ular cobra, ular welang, ular tanah dan sebagainya, juga penuh dengan kalajengking yang besar-besar sebanyak 3000 ekor. Saya bergaul dengan hewan-hewan berbisa itu siang dan malam selama 100 hari. Sudah itu dalam aktrasi yang lain saya menyediakan jeruji sebanyak 100 buah.

Saya tusukan ke leher saya dari kanan tembus ke kiri. Penonton saya persilahkan menusukkan jeruji sepeda yang lain ke tubuh saya atau ke leher saya, boleh pilih sendiri. Sampai banyak jeruji menghiasi tubuh dan leher dan mulut saya. Setelah beberapa lama berlangsung atraksi ini, jari-jari sepeda saya cabut satu per satu, bekas-bekasnya saya sapu dengan tangan saya sambil mengucapkan mantra., dan tidak ada bekas, tidak ada darah menetes.

Pada tanggai 4 Agustus 1992 terjadilah peristiwa yang tidak saya sangka-sangka. Ular cobra kesayangan saya, yang pada setiap pertunjukan selalu melilit di leher saya dengan ekornya dan menari-nari dengan batang leher dan kepalanya dengan sangat lucu mengikuti irama musik, entah kena apa mendadak sontak memagut tangan kanan saya. dan seketika itu tangan saya membengkak dan saya jatuh pingsan.

Ketika saya siuman kembali, ternyata saya telah terbaring di ruang gawat darurat di rumah sakit Ranca Badak dengan infus di tangan kiri saya. Kata dokter saya kena nerotoksin. Selama 29 hari saya terbaring di ruang gawat darurat menghabiskan 47 labu cairan dan 13 labu darah. Kondisi badan saya sangat menurun, tinggal kulit yang melekat di tulang dan rambut
saya yang panjang di bawah pinggul saya. Berat badan saya menurun dari 59 kg menjadi 37 Kg. Keluarga saya kehabisan biaya, sedang kondisi saya terus menurun tidak ada harapan lagi, saya dimintakan untuk pulang saja oleh keluarga saya.

Setelah empat hari di rumah saya tidak sadarkan dirl. Saya dilarikan lagi ke rumah sakit. Saya mendengar percakapan orang
disekitar saya.Empat orang dokter sempat melihat tubuh saya. Semuanya mengatakan saya sudah tiada lagi. Visum kematian
sudah dibuat untuk penguburan saya. Keluarga saya sudah miengucapkan doa-doa orang mati di bawah ranjang saya. Tapi
seorang dokter di antara ke empat dokter yang tidak bersedia saya sebutkan namanya, melarang tubuh saya cepat-cepat di kubur, karena dia ingat percakapan saya dengan dia waktu saya dirawat di ruang gawat darurat, kalau saya mati jangan cepat-cepat dikubur. Dia berdoa dan tumpang tangan di atas kepala saya. Setelah saya mengalami tidak sadarkan diri selama dua hari satu malam itu, ada gerakan lagi pada jari-jari saya. ada pernafasan lagi. Dokter tersebut mengambil segelas plastik aqua dan di tetes-teteskan kedalam mulut saya. Saya dapat membuka mata dan telah sadar kembali. Tiga orang dokter lain ikut mendatangi saya dan mereka berempat berdoa dan tumpang tangan buat saya. Setelah tiga hari di rumah sakit saya dibawa pulang lagi oleh keluarga saya.

Selama di rumah saya merenungi hidup saya dan ingat pula atas pelayanan para dokter dan para juru rawat di rumah sakit serta ingat pula atas doa dokter tersebut. Setelah beberapa bulan di rumah, saya ingat pelajaran saya waktu belajar ilmu hitam, ilmu mantra dan ilmu tenung bahwa orang Kristen itu tidak mempan mantra dan tenung. Hati saya mendadak tergerak untuk bertemu dengan Pendeta. Dengan kondisi badan yang belum pulih, saya pergi ke Bandung langsung ke suatu Gereja yang besar di tepi jalan besar. Tetapi alangkah kecewa hati saya mereka yang ada di gereja itu tidak ada yang mau menerima kedatangan saya. Mungkin mereka menganggap saya ini kurang waras, tubuh saya kurus kering, rambut saya panjang seperti ekor kalajengking. Saya pulang ke rumah dengan rasa murung.

Beberapa hari kemudian saya pergi ke rumah salah seorang yang beragama Kristen. Saya ceritakan kekecewaan saya itu, dia
tanggap dan saya diajak ke Bandung, ke Gereja yang lain. Di sini saya dilayani. Saya mengikuti kebaktian tiap hari Minggu dan setelah tiga bulan saya dibaptis, yaitu pada tanggal 20 Juni 1993.

Sejak saya masuk gereja tidak ada lagi dalam pikiran saya untuk tampil dalam pertunjukan lagi seperti yang sudah-sudah. Bukan karena takut mati dipagut ular tapi takut akan Rabboni ‘Isa. Dulu saya sahabat ular sekarang saya menjadi seteru ular dan berperang melawan ular.Dulu, ular sahabatku, sekarang Rabbi Isa Almasih Juruselamatku. Dulu, saya membenci orang Kristen tetapi orang Kristen tidak membenci saya. Dulu saya pernah membenci Yesus Kristus tetapi Yesus yaitu ‘Isa tidak pernah membenci saya, bahkan hari ini Yesus telah melepaskan saya dari kuasa gelap, menyelamatkan saya dari kebinasaan.

Tetapi setan memang tidak pemah berhenti menggoda manusia.Pada suatu hari saya ditawari uang Rp 12.000.000,- untuk
pertunjukan selama satu bulan, dengan pertunjukan lima jam sehari. Nama dan gambar saya dimuat di surat kabar. Tetapi sekalipun keluarga saya hidup pas-pasan, saya tidak terpikat lagi atas tawaran Iblis tersebut.

Pada suatu hari Pendeta mengirim saya ke Jakarta untuk belajar dan berlatih di sekolah Al-Kitab. Senin sampai Jumat belajar di Jakarta, Sabtu dan Minggu di Bandung dan bertemu dengan keluarga dan handai tolan. Saya berbicara tentang keselamatan yang diajarkan oleh Sang Juruslamat sendiri yaitu AlMasih ‘Isa.

Eh, banyak dari mereka yang tertarik, dan mereka minta dibaptis. Akhirnya istri saya, anak-anak saya, adik-adik ipar saya, mertua saya, teman-teman saya juga mereka yang tempat tinggalnya jauh dari rumah saya sampai 40 km dari rumah saya menerima baptisan kudus sebagal tanda pertobatan mereka, sebagai meterai mereka menjadi milik Sang Juruslamat Al-Masih ‘Isa. Sampai kesaksian saya ini saya tulis, jumlah mereka itu semua sudah mencapai 87 orang. Puji Tuhan. Dan saat itu nama
saya yang mula-mula Dadang Murtala berubah menjadi Dadang Mathius.

Demikianiah kesaksian saya, saya tuliskan dengan harapan saya agar ikut menjadi penggerak dan penggairah hati anak-anak Tuhan untuk mau ikut melayani Dia. Bersaksi tentang Dia dan memberitakan kasihNya, penyelamatan orang berdosa seperti saya dulu yang pernah dikuasai setan, yang bakal binasa telah diselamatkan oleh Dia.

Puj’i Tuhan.

Tuhan memberkati kita semua

Dadang Mathius

Categories: Mualaf Bersaksi
Tagged:

Kesaksian Rabiyah

July 17, 2008 · Leave a Comment

Nama saya Rabiyah dan saya berasal dari sebuah keluarga Islam Ortodoks. Ayah saya seorang yang amat alim dan bertugas sebagai Imam di masjid kota saya. Dia adalah seorang ahli sunnah berketurunan India utara, namanya bermula sebagai “Pir Muhammad” oleh kerana itu, sebagai seorang yang bergelar Pir dia disegani ramai umat Islam di Kota kami. Lebih daripada itu, dia juga berketurunan keluarga “Shahib”.

Ibu saya pula seorang Melayu yang cukup kuat ketakwaannya kepada Allah, oleh sebab pengaruh amalan tasawwuf dalam kehidupannya. Sudah tentulah kedua-dua ibu bapa saya telah bermain pengaruh ajaran dan amalan Islam yang besar di dalam kehidupan saya.

Tugas-tugas ayah saya sebagai Imam melibatkan mengadakan kelas-kelas pengajaran al-Quran, bimbingan akidah dan keagamaan bagi muda-mudi dan juga bagi Muslimin dan Muslimah dewasa. Sudah tentu, dia juga akan mengimamkan para Muslim lain semasa sembahyang solat di dalam masjid. Ayah saya juga menyandang tugas dan peranan menyempurnakan upacara pengkebumian mereka yang telah meninggal dunia; dia juga telah sempurnakan banyak upacara-upacara perkahwinan para Muslim.

Sebagai seorang Imam Masjid, bapa saya amat berpengaruh dan disegani para mukminin di kota saya. Ramai orang akan mengunujungnya untuk didoakan dan juga mencari penyelesaian bagi masalah-masalah dan kemusykilan keagamaan mereka.Tidak kurang juga yang datang meminta pertolongannya semasa masalah-masalah peribadi mereka, seperti penyakit diantara ahli keluarga mereka, menyelesaikan pergaduhan dan pertelingkahan, perlindungan daripada musibah-musibah dan sebagainya. Misalnya, ayah akan menulis ayat-ayat Al-Quran pada kertas-kertas kecil dan diberikannya kepada mereka yang memerlukannya untuk disimpan supaya dilindungi daripada kecelakaan yang tidak diingini seperti penyakit, kerasukan jin-jin, kehilangan sumber pergantungan, dan sebagainya! Ada juga mereka yang mengambil air bunga yang akan didoakannya untuk digunakan sebagai air mandi bagi mereka yang perlukannya.

Ayah saya juga amat menyayangi abang saya dan ayah telah mengharapkan supaya abang saya akan mengambil alih tempatnya sebagai Imam dan pemimpin umatnya di tempat kami. Akan tetapi ini tidak berlaku oleh kerana abang saya telah meninggal dunia secara mengejut apabila saya meningkat usia 18 tahun. Sejak peristiwa itu, ayah telah mengalami kesedihan yang amat sangat sehingga kehilangan azamnya untuk melayani mereka yang telah mengunjung ke rumah saya bagi mendapat pertolongan daripadanya. Oleh sebab keadaan ini, saya telah meningkatkan penglibatan saya didalam upacara-upacara ayah saya untuk melayani para Muslim yang telah mengunjungi kami mencari pertolongan. Dalam cara ini, saya telah mendalami pengetahuan serta pengilmuan saya dalam Islam dan pelayanannya.

Didalam ruang kebun rumah kami terdapat sepohon pokok yang rendang. Pohon ini ada keistimewaannya bagi ayah saya. Tetapi pokok ini bertumbuh terlalu dekat dengan pagar rumah jiran kami. Jadi, cabang-cabangnya dan juga ranting-rantingnya telah mengular secara perlahan-lahan memasuki kawasan rumah jiran kami. Suatu hari, jiran kami itu telah meminta supaya cabang-cabang pokok itu ditebang, dan ayah telah menjawabnya untuk menebang pokok itu dengan sendiri jika dia kehendaki! Jadi pada hari keesokannya jiran itu telah datang dengan sahabat-sahabatnya untuk menebas pokok didalam kebun saya itu. Akan tetapi, mereka tidak dapat menebangnya; tetapi sebaliknya pula, orang yang telah mencuba memotongnya telah mengalami kecederaan pula! Ayah memberitahu saya secara senyap bahawa pokok itu tidak dapat ditebang jika ayah saya tidak membenarkannya!

Pada satu malam, saya telah mencuba ‘berbual’ dengan pokok itu. Saya telah memohon ‘roh’ yang menumpang didalam pokok dikebun saya itu supaya ‘berpindah’ kedalam suatu pohon pokok yang lain dikebun saya. Saya telah mengalas beberapa biji telur rebus dan sepinggan nasi kunyit di kaki pokok yang baru ‘diinapi’ itu. Pada hari keesokannya pula, pokok yang pertama itu dapat ditebang dengan jayanya oleh jiran saya! Ayah telah menjadi sungguh heran sekali diatas peristiwa itu, kerana dia belum ‘memberi arahan keluar rumah’ kepada pokok itu! Jadi, melalui peristiwa inilah ayah telah menyadari yang saya juga memiliki kebolehan rohani yang unik ini. Tidak lama kemudian, ayah telah meninggal dunia.

Selepas peristiwa pahit kematian ayah saya, saya telah keluar bekerja sebagai seorang guru di sebuah sekolah perniagaan (komersil) bagi menanggung sara hidup keluarga saya. Sebagai seorang anak perempuan seorang bekas Imam masjid, saya telah menurut peraturan-peraturan Islam secukup-cukupnya apabila keluar dari rumah. Selain daripada menutup aurat dengan bertudung, saya juga bersarung tangan serta berstokin sepenuhnya! Di tempat kerja saya itu saya telah bersua dengan seorang guru wanita Kristian yang tidak habis-habis bercakap mengenai Tuhannya sahaja! Sepertimana yang kamu boleh sangkakan dengan mudah – saya telah cuba mengelak dari berkenalan dengannya kerana saya begitu tidak berminat sekali di dalam cerita-cerita Tuhan umat Kristian. (Akan tetapi sebaliknya, Tuhan telah menyentuh hati wanita Kristian ini supaya berdoa untuk saya selama sepuluh tahun tanpa pengetahuan saya!)

Dua tahun setelah saya tinggalkan kolej itu, saya telah mengidap sejenis penyakit yang serius. Namanya dalam bahasa Inggeris: Rheumatoid Osteo Arthritis. Penyakit ini membengkakkan sendi-sendi di tulang-temulang saya. Tulang-tulang saya pula menjadi kudung dengan perlahannya. Ia juga menyerang sel-sel darah merah saya dengan mengurangkan pengeluaran mereka, sambil memperbanyakkan sel-sel darah putih secara abnormal. Doktor dan pakar-pakar perubatan telah memberi ramalan jangka hayat saya untuk hidup hanya selama tiga bulan lagi!

Apabila mendengar berita buruk itu, dunia saya telah hancur berkecai! Selama ini saya telah berikhtiar hidup sebagai hamba Allah yang taat dan setia. Misalnya, saya tidak sekalipun meninggalkan doa-doa solat lima kali sehari selama ini, saya juga seringnya berpuasa lima puluh hari menjelang bulan puasa, jauh lebih banyak daripada yang wajib bagi seorang muslimah. Kali ini saya dicabar bertawakal pula bagi kesihatan saya! Meski pun begitu, suara hati saya telah mengerakkan saya untuk berhubung dengan wanita Nasrani yang menjadi rakan sekerja saya dahulu! Sudah dua tahun lamanya saya tidak bersua dengannya.

Alangkah ajaib dan aneh sekali apabila saya telah menerima panggilan telefon daripada wanita ini!! Setelah dua tahun lamanya tidak berhubung, apatah lagi saya tidak mempunyai nombor telefonnya! Bagi saya,ini tidak lain tidak bukan satu mukjizat Tuhan namanya! Bekas rakan sekerja saya ini telah bertanya :“Apa khabar dengan kamu?” Saya terus berkata kepadanya yang saya mesti bertemu dengannya secepat mungkin. Lalu saya dijemput kerumahnya pada saat itu juga.

Di rumah wanita Kristian yang alim ini, saya telah memberitahunya tentang keadaan penyakit tenat yang saya hidapi itu. Air mata saya menitis berlinang-linang semasa saya meluahkan kekeciwaan dan perasaan putus asa saya kerana mempunyai hanya tiga bulan berhayat di muka bumi ini, walaupun saya telah begitu bertakwa dan taat setia kepada jalan Allah dan sunnah-Nya. Kawan saya telah mendengar segala-galanya dengan sabar, sambil membuat secawan t eh untuk saya.

Sesudah saya habis menceritakan kepada kawan saya ini saya telah meminta untuk didoakan. Dia pun bersetuju dan telah berdoa bagi saya seperti berikut:

“Ya Rabbi Tuhan kami, anak-Mu sudah pun kembali kepangkuan-Mu, bukalah matanya dan tunjukilah kepadanya siapakah sebenar-Nya Engkau.”

Selepas doa itu, saya merasa keciwa oleh sebab doanya begitu singkat!  Saya pun pulanglah ke rumah saya tanpa meminum minuman yang disediakan untuk saya itu. Pada keesokan hari itu pula saya telah pergi ke Hospital Besar untuk menepati temu-janji dengan doktor-doktor saya. Di hospital, saya diperiksa dengan terperinici dari kepala ke tapak kaki saya! Saya diX-Raykan beberapa kali dan juga dikenakan bermacam-macam ujian darah berkali-kali. Menjelang petang hari saya tidak dibenarkan pulang ke rumah, malah dikenakan X-Ray dan beberapa ujian lagi! Lepas itu pula saya ditemu-bual(interviu) dengan pakar-pakar yang sedang mengubati saya.

Mereka menanyakan jikalau saya ada diubati oleh doktor-doktor atau pakar yang lain, saya pun menjawab ‘Tidak’ kepada soalan mereka ini.

Pakar-pakar perubatan ini mengeluarkla 2 keping X-Ray yang berlainan dan menunjukkan kepada saya. Satu keping X-ray itu telah diambil beberapa minggu yang lalu. Imej rangka tulang didalamnya nampak berkudung semuanya. Tetapi, imej didalam keping-keping X-ray yang diambil pada hari itu menunjukkan semua tulang-temulang saya sudah kembali NORMAL! Ini bererti bahawa saya sudah pun DISEMBUH! Puji Tuhan Alhamdulillah!

Sesudah disahkan oleh doktor dan pakar-pakar Hospital Besar, saya pun menelefon kawan Nasrani saya itu untuk memberitahukannya berita yang sungguh baik ini. Responsnya pula adalah “Saya pun sudah tahu akan keputusannya! Tuhan Allah telah mendedahkannya kepada saya.”

Alangkah lega dan ringannya rasa hati saya minggu selepas itu! Hati dan jiwa saya begitu kehausan untuk mengenali Tuhan umat Nasrani yang telah menjadi Penyembuh saya itu! Saya kira pada minggu itu saya telah membaca Kitab Suci Injil lebih lima puluh kali! Terutama sekali kisah riwayat Al-Masih ‘Isa ibnu Maryam yang terkandung di dalamnya.

Pada penghujung minggu itu pula, saya telah masuk ruang dapur di rumah untuk berdoa dan merenungkan firman Tuhan yang telah saya bacakan. Tiba-tiba satu cahaya warna kuning yang amat terang selubungi ruang dapur itu. Dalam cahaya terang itu saya dapat lihat dengan jelas rupa ‘Isa al-Masih yang berwarna putih telah menjelma didepan mata saya. Lalu saya mendengar kata-katanya yang ditujukan kepada saya : “Saya bersama-sama denganmu, janganlah kamu takut atau khuatir.”

Pada ketika itu juga, Tuhan telah membenarkan saya mengalami suatu pengalaman imbasan kembali yang sungguh menakjubkan. Tuhan mengingatkan kepada saya dua peristiwa dalam kehidupan saya dimana saya telah nyaris-nyaris mengambil nyawa saya sendiri! Bagaimanakah dapat saya menjunam sedalam-dalamnya lembah kekeciwaan seperti itu? Selama saya beragama Islam dengan beriman dan beralim, saya penuh keyakinan bahawa Tuhan akan menyelamatkan saya daripada masalah-masalah dan kerumitan dalam keluarga saya itu, terutama sekali masalah kewangan yang telah kerapkali timbul. Saya berpuasa lima puluh hari di musim Ramadhan, lebih daripada yang diwajibkan. Saya juga tidak pernah meninggalkan lima kali sehari solat saya. Akan tetapi ini semua seolah-olah tidak membawa apa-apa kesan dalam keadaan keluarga saya itu.

Imbasan-kembali pertama yang dibenarkan Tuhan kepada saya ialah apabila saya berusia dua-belas tahun. Pada masa itu adalah musim hujan dan saya telah pergi berdiri di tebing sebatang sungai di perkampungan saya. Air dalam sungai sungguh deras kerana hujan yang sudah turun. Saya pun mengalami perasaan yang amat kuat untuk menerjun kedalam arus sungai yang deras itu. Tetapi apabila saya hampir-hampir melompat, saya terasa bahu saya dipegang, dan tiba-tiba saya kedengaran suara dari belakang saya yang berkata: “Saya bersama-sama denganmu, janganlah kamu takut atau khuatir.” Apabila saya berpaling kebelakang, tiada seorang pun yang berada disitu.

Imbasan-kembali kali kedua pula berlaku apabila saya berumur dua-puluh satu tahun. Saya telah mencuba mengambil nyawa saya sekali lagi. Kali ini saya telah naik ketingkat yang tertinggi sebuah bangunan pencakar langit di kota saya untuk melompat darinya. Saya hampir-hampir terjun dari tingkat tertinggi bangunan itu apabila, sekali lagi, saya kedengaran suara dari belakang saya yang berkata: “Saya bersama-sama denganmu, janganlah kamu takut atau khuatir.” Kali ini pula saya terasa tangan diatas kedua bahu-bahu saya, menghalang saya daripada melompat kebawah. Apabila saya berpaling kebelakang, tiada seorang pun yang berada disitu.

Setelah saya mengalami kedua-dua imbasan kembali ini, saya menanyakan jelmaan ‘Isa al-Masih yang putih berseri itu -“Adakah suara yang mengatakan kata-kata itu suara Kamu?” Dengan jelas sekali telah kembali jawapannya:“Ya!”

Pada saat itu juga saya memeluk penyelamatan dan penebusan yang dianugerahkan dalam Isa al-Masih. Saya menyerahkan segala rancangan-rancangan hidup saya serta masa depan saya kedalam tangan-Nya. Apabila saya membaca dan mengkaji Kitab Suci Injil, saya berasa aman damai dan kelegaan yang saya tidak pernah mengalami sebelumnya dengan mana-mana Kitab Suci yang lain. Pengalamannya seperti air hidup yang datang mencurah-curah diatas jiwa saya yang tandus kehausan dan menghilangkan segala kehausan dan ketandusan rohani yang sehingga saat itu begitu mengeciwakan sekali.

Selepas itu, saya telah pindah keluar dari rumah untuk mengelak daripada situasi yang tegang dan kurang aman setelah ibu saya mendapat tahu mengenai keadaan baru saya. Walau pun begitu, selepas dua minggu ahli keluarga saya telah mengajak saya kembali ke rumah untuk makan malam. Saya pun menerima jemputan mereka dengan hati terbuka tanpa apa-apa kesangsian atau syak wasangka. Padahal, ahli keluarga saya telah meracuni makanan yang diberikan kepada saya. Walau bagaimanapun, Tuhan mahakuasa akan membenarkan saya menjamah makanan itu tetapi ia tidak membawa apa-apa kesan buruk keatas saya, puji Tuhan Mahakuasa! Akhir kata, keluarga saya telah cuba beberapa kali untuk membunuh saya, tetapi setiap kali Tuhan mahakuasa akan mendedahkannya kepada saya dan saya berjaya melarikan diri.

Pada hari ini, saya sungguh gembira berkhidmat dalam pelayanan Tuhan sepenuh masa. Dia telah membuka jalan untuk saya melayanani-Nya di negeri Malaysia, Indonesia, Filipina, New Zealand, Australia dan juga di Singapura. Pelayanan-Nya yang saya melibatkan diri ialah dalam bidang penyembuhan dan memberitakan khabar baik-Nya bagi mereka yang memerlukannya. Kini saya kenal kuasa Tuhan Mahakuasa yang hidup dan benar walhal sebelumnya saya tidak, segala puji dan kemuliaan kepada Tuhanku dan Pembelaku yang Agung!

Categories: Mualaf Bersaksi
Tagged:

Kesaksian Kartini

July 17, 2008 · Leave a Comment

Kesaksian ini ditulis dengan harapan apa yang saya alami, kiranya bisa menjadi berkat baik bagi mereka yang telah percaya maupun yang belum percaya.

Sebelum saya percaya kepada Isa Almasih sebagai Tuhan dan Juruselamat, saya adalah seorang Muslimah, berlatar belakang dari keluarga Muslim dan dibesarkan di Pondok Pesantren Miftahul Huda, Sukabumi Jawa Barat. Dari apa yang saya yakini dan pelajari selama itu, saya tumbuh menjadi seorang Muslimah yang fanatik dan anti-Kristen, dan menjebak bahkan mendebat orang Kristen paling hobi.

Berteriak-teriak di depan gereja dengan bilang: “Maria, dipanggil Yesus cuek saja” pun pernah saya lakukan. Karena saya merasa bahwa apa yang saya yakini waktu itu, adalah paling benar dan diridhoi Allah SWT, sesuai dengan Qs. Ali Imran 19 yang berbunyi: Innaddinna indallaahil Islam (Sesungguhnya agama (yang diridhoi) di sisi Allah hanyalah Islam)

Di luar Islam semuanya saya anggap sesat, apa lagi orang Kristen, kafir, karena Allahnya ada tiga : Tuhan Bapa, Tuhan Anak dan Tuhan Roh Kudus. Tapi alhamdullilah saya tidak pernah sampai membunuh orang Kristen.

Dan mengapa saya bisa percaya kepada Isa Almasih sebagai Tuhan dan Juruselamat ? Walaupun saya bangga dengan apa yang saya yakini dulu, tapi kalau bicara tentang hari penghakiman, itu paling takut dan paling ngeri karena saya tidak tahu pasti, kalau saya mati mendapat rahmnat Allah (masuk surga) atau laknat Allah (masuk neraka), karena saya manusia biasa yang tidak pernah luput dari kesalahan dosa.

Dari Sukabumi saya hijrah ke Bandung untuk belajar ketrampilan. Di kota kembang ini saya tinggal di pondokan atau kost. Teman-teman saya kebanyakan orang Kristen dan kebiasaan saya yang dulu tidak pernah berubah, menjebak dan mendebat orang Kristen masih sering saya lakukan dan saya tetap benci pada orang Kristen.

Entah kenapa suatu hari saya ingin membaca Alkitab punya teman dan di kitab Kejadian ada tertulis “Allah menciptakan manusia dari tanah…” saya heran, kok sama dengan Al Qur’an, padahal Injil itu kan sudah dipalsukan dsbnya, dan orang Kristen sekarang itu ‘kafir’.

Berawal dari penasaran itu saya mencari teman untuk pergi ke gereja. Saya ingin tahu dan ingin menyelidiki bagaimana orang Kristen beribadah. Benar saya masuk gereja dan pertama itu saya tidak bisa menahan rasa haru dan sedih, saya menangis hingga kebaktian selesai, batin saya berontak antara dosa murtad dan percaya, murtad karena masuk gereja dan percaya kepada Tuhan.

Minggu-minggu berikutnya, saya selalu ingin dan rindu untuk datang ke gereja lagi, dan selama empat bulan saya suka ke gereja, tapi selama itu saya tidak mau berdoa dalam nama Yesus atau Isa Al-Masih, saya percaya kepada Allah tapi tidak percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan sebagai Anak Allah karena saya punya anggapan yang menyanggah keberadaan itu, yaitu surat Al Ikhlas yang berbunyi :

Qul huwallahu ahad
Katakanlah:”Dia-lah Allah, Yang Maha Esa”

Allaahush shamad :
Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu

Lam yalid wa lain yuulad :
Dia tidak beranak dan tidak (pula) diperanakkan

Wa lam yakul lahuu kufuwan ahad :
Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.

Meskipun saya ke gereja tapi kewajiban saya selaku orang Muslim untuk shalat lima waktu tetap saya kerjakan. Hingga pada suatu hari saya jatuh sakit; sesudah dua minggu sakit dan tidak ada tanda-tanda membaik, akhimya pada hari minggu ketiga, ketika seorang harnba Tuhan mengajak berdoa di Televisi saya spontanitas ambil Alkitab dan tiba-tiba Alkitab terbuka
sendiri di situ, Tuhan beri ayat untuk saya dan saya ingat sekali ayat itu :

“Seorang dara yang menderita pendarahan selama 12 tahun ketika Almasih ‘Isa lewat dia menjamah jubahNya, dia percaya dengan menjamah jubahNya dia akan sembuh.”

Saya pikir itu kok sama dengan saya. Akhirnya saya tantang Yesus, saya berdoa : “Ya Rabbi ‘Isa kalau memang Engkau Tuhan dan bisa menyembuhkan segala macam penyakit, sembuhkanlah saya,” dan mujizat terjadi besoknya, saya telah sembuh.

Akhirnya saya kaji lagi surat Al-Ikhlas yang menjadi sanggahan, untuk percaya tentang Isa Al-Masih itu dan saya bandingkan dengan kisah kehidupan Isa Putra Maryam, dari mulai kelahiran,mujizat-mujizatNya, sampai kepada kematian dan kebangkitanNya kembali bahkan kedatanganNya yang kedua kali. Yang lebih melekat di hati saya, adalah Isa Putra Maryam bisa menghidupkan orang yang sudah mati, kalau manusia bisa seperti itu, dia pasti takabur apalagi kalau tidak ada dasar kasih dalam hatinya dan yang berkuasa atas hidup matinya manusia hanya Penciptanya sendiri yaitu Allah.

Dari kesemua ayat-ayat Al-Ikhlas itulah saya bisa membuktikan kalau Isa (Yesus) itu adalah Allah. Tuhan bukakan mata rohani saya, yang selama ini tertutup oleh illah-illah zaman ini dan saat itu bisa percaya bahwa Isa Almasih (Yesus Kristus) tidak hanya nabi tapi Dia juga benar-benar Tuhan Yang Maha Kuasa.

Pada suatu hari saya butuh legalisir ijazah saya di Sukabumi untuk melanjutkan sekolah di Bandung; saya harus pergi ke sekolah saya yang dulu, di mana saya sekolah dan mesantren. Ketika saya minta legalisasi,entah kenapa surat kelakuan baik saya dari Kepolisian terbaca oleh mereka dan di situ agama saya tertulis Kristen Protestan sedangkan ijazah saya dari Tsanawiyah; akhirnya bukan terima legalisasi tapi malah berdebat dengan guru-guru dan Ustad saya, akhirnya saya pulang ke Bandung dengan tangan hampa.

Setelah saya bisa percaya bahwa Isa itu Tuhan dan Rabboni , tantangan pertama malah datang dari orang Kristen sendiri. Saya dulu menilai orang-orang Kristen yang suka ke gereja itu baik-baik karena ada ajaran kasih tapi ternyata tidak, saya pernah dimaki-maki dan diolok-olok “Kamu jadi Kristennya pura-pura, mana mungkin orang pesantren bisa masuk Kristen, dasar tukang pelet, tukang santet dll“.

Dari kesedihan itulah saya ingin pulang ke rumah untuk mengadu ke orang tua saya, tapi apa yang saya dapati ketika saya sampai di rumah, semua keluarga menjauhi, saya heran kenapa semuanya berubah seperti ini, bahkan ketika orang tua saya bilang: “Kamu dikasih apa sih sama mereka, sampai kamu bisa menjual agama kamu dan masuk Kristen?” Saya kaget orang tua saya tahu dari mana? Dan dikiranya saya masuk Kristen dikasih supermi atau dikasih apa saja sama gereja, seperti apa yang mereka sangka selama ini, bahwa orang Islam masuk Kristen dirayu atau dikasih uang atau pula dikasih makanan.

Dan caci maki pun keluar, ayah saya bilang: “Aku tidak pernah menyangka kamu bisa jadi kayak gini, kalau kamu berbuat dosa kayak apapun masih bisa diampuni tapi ini dosa murtad, dosa yang tidak bisa diampuni lagi, dulu aku bangga kamu bisa ngajar-ngajar ngaji, dipakai di masyarakat tapi sekarang tidak ada artinya lagi, aku sampai disidang oleh ketua yayasan dan guru-guru disitu dimaki-maki gara-gara kamu masuk Kristen, kamu sudah benar-benar mencemarkan nama baik dari Pesantren sampai bisa masuk Kristen, entah ditaruh di mana mukaku dan nama baik keluarga ini sama kamu, kamu kalau binatang itu sudah mesti dibunuh saking sudah benar-benar mencemarkan nama baik, sampah di pinggir jalan masih bisa berharga, tapi kamu tidak ada harganya sama sekali, dan biar kamu tahu nama kamu itu sudah ayah masukkan proposal dan dikirim ke Menteri Agama “
Untuk apa ??? Tanyaku, biar suatu saat kalau terjadi apa-apa sama kamu, saya sebagai orang tua sudah tidak mau bertanggung jawab lagi gara-­gara kamu masuk Kristen.

Bagaikan disambar geledek di siang bolong, kenapa mereka tega seperti itu, dan lengkaplah sudah penderitaan saya waktu itu, rupanya setelah kejadian legalisasi ijazah itu, ketua yayasan langsung memanggil orang tua saya, hingga akhirnya mereka sepakat nama saya dimasukkan proposal dan di kirim ke Departemen Agama, setelah tahu seperti itu, saya tidak ada pilihan
lain lagi selain pergi dari rumah itu dan bertekad dalam hati “Ya Rabboni ‘Isa, saya tidak akan meninggalkan Engkau, walau pun orang tua saya atau saudara-mara mengabaikan saya. Hanya padamulah Tuhan aku serahkan segala bebanku ini”. Tuhan Allah telah amat baik kepada diri saya. Walau pun saya telah pergi tanpa dibekali apa-apa oleh ibu dan bapa, Tuhan Allah Bapa syurgawiku tidak pernah mengabaikan saya! Halleluyah! Alhamdullilah! Sejak saat itu Allah Bapa syurgawilah yang telah membekali saya setiap kali baik dari segi rohani dan fisikal, dan Dia tidak pernah mungkiri janji-janjiNya kepada setiap domba-dombanya termasuk saya!

Sehingga akhirnya tibalah waktunya bagi saya untuk menyatakan iman percaya saya kepada Al-Masih ‘Isa sebagai Tuhan dan Juruselamat saya melalui Baptisan Kudus di gereja GKI Jabar di Bandung pada bulan Desember 1994, setelah selama sembilan bulan belajar katekisasi. Setelah selesai baptisan itu saya berdoa, “Tuhan, terima kasih karena Engkau telah memeteraikan saya, tetapi saya tidak ingin hanya saya saja yang selamat, saya pun ingin keluarga dan saudara-saudara saya diselamatkan, dan saya ingin menjadi Penginjil, untuk memberitakan kabar keselamatan yang berasal dari Engkau seperti yang telah saya terima”.

Dan ajaib sekali Tuhan kita itu, Dia kirim dua orang ibu dengan membawa buku-buku penginjilan banyak sekali, padahal
sebelumnya saya tidak pernah mengenal dan sama sekali belum pernah bertemu dengan dua orang ibu itu, dan itu merupakan sukacita yang sangat besar sekali saya rasakan, sebagai jawaban dari doa saya untuk menjadi penginjil, dan puji Tuhan saya diperkenankan belajar di Pusat Latihan ‘Christian Centre Nehemia‘ Jakarta dan dari apa yang saya alami saya kesimpulan :

1.Tidak ada kekuatiran dalam nama Rabbi ‘Isa.

2. Kita tidak bisa bersandar pada kekuatan manusia sekalipun itu orang tua sendiri.

3. Dan keselamatan tidak bisa kita peroleh dengan amal baik kita atau dengan cuba mengumpul pahala sebanyak-banyaknya, karena keselamatan itu suatu anugerah dan hanya ada di dalam nama ‘Isa Al-Masih.

Demikianlah kesaksian ini saya tulis, sebagai rasa ucapan syukur saya karena Rabboni Al-Masih ‘Isa Putra Maryam telah
menyelamatkan saya dari lembah dosa dan kegelapan dan yang telah membawa ke dalam terang Allah yang ajaib.

Amin ya robbal alamin,
Hormat kami,
Kartini A.I.

Catatan redaksi :

Dua orang ibu tersebut menemukan alamat yang bersangkutan di suatu toko buku di Bandung. Dua orang ibu itu merasa terbeban dan mencari alamatnya sampai ketemu. Berkat Tuhan! Tuhan sendiri yang menuntun mereka, pasti ketemu.
Hodu ladonai! Puji Tuhan! Halleluya!

Tuhan memberkati mereka semua Amin

Ulasan redaksi :

Kebanyakan orang muslim, seperti saudara Kartini A.I. banyak membenci dan mendebat orang Kristen, padahal
Al Qur’an menyebutkan orang Kristen, orang Nasrani itu persahabatannya paling dekat dengan orang lslam.

Categories: Mualaf Bersaksi
Tagged:

Kesaksian Aishah

July 17, 2008 · Leave a Comment

Saya dididik oleh ibubapa saya mengenali dan mengamal rukun Islam dan rukun Iman. Saya tidak pernah meragui atau menyoal ajaran Islam yang telah diajar semenjak kecil lagi. Tetapi pada suatu hari semasa saya menuntut diuniversiti, seorang rakan kuliah saya yang beragama Kristian bertanya soalan ini kepada saya, ” Jika kamu mati sebentar lagi, tahukah kamu samada kamu akan ke syurga atau neraka?” Saya tersentak dengan soalan ini kerana tiada siapa pun pernah menyoal saya mengenai perkara ini. Namun demikian saya cuba juga menjawap soalannya. Jawapan saya kepada soalan itu adalah “Saya tidak tahu. Kewajipan saya adalah memenuhi semua amalan dalam rukun Islam dan rukun Iman dengan harapan Tuhan akan menerimanya dan apabila saya mati saya harap segala amalan ini akan menyelamat saya dari api neraka”. Rakan saya seterusnya berkata “Bagi orang Kristian, kami tahu bahawa bila kami mati kelak kami akan ke syurga.” Saya terdiam mendengar jawapannya. Dalam hati saya berfikir betapa bongkaknya rakan saya ini. Nabi Muhammad sendiri tidak pernah mengakui bahawa beliau akan ke syurga bila mati kelak. Apa lagi manusia biasa seperti kita ini.

Semenjak perbualan kami itu saya sering kembali kepada persoalan yang dikemukakan oleh rakan saya itu. Apa yang menyebabkan orang Kristian begitu pasti mengenai nasib mereka di akhirat nanti? Soalan inilah yang mendorong saya untuk membaca kitab Injil. Setelah membaca kitab Injil, dua perkara yang menarik perhatian saya adalah:

(1) Surah Romans 3:23-25 “…keseluruhan manusia telah berdosa dan jauh daripada hadirat Allah yang menyelamatkan. Oleh rahmat Allah yang diberi dengan percuma, manusia diperdamaikan dengannya dengan perantaraan Yesus Kristus yang membebaskan mereka. Allah mempersembahkan Yesus Kristus supaya dengan kematiannya dia menjadi jalan pengampunan dosa bagi mereka yang percaya kepadanya”.

Jelas dari surah ini, manusia diselamatkan oleh iman kita kepada Nabi Isa. Ini bukan merupakan hasil usaha kita melainkan berkat Allah. Dengan ini tiada siapa pun boleh memegahkan diri mereka dengan amalan mereka. Kita semua tiada perbezaan dihadapan Tuhan yang Maha Kuasa dan Adil kerana Nabi Isa yang telah menebus segala dosa kita. Saya sedar setelah membaca surah ini bahawa manusia tidak dapat menyelamatkan diri mereka daripada dosa kerana memang sifat manusia—kita tidak dapat mencapai tahap kesucian tanpa satu dosa pun. Oleh kerana itulah nabi Isa disalib kerana hanya dengan kematiannya dosa manusia dapat ditebus.

(2) Surah Matius 23: 25-26 Nabi Isa bersabda “…Kamu membersihkan diluar cawanmu dan pingganmu, tetapi didalamnya penuh dengan perkara-perkara yang kamu peroleh dengan jalan kekerasan dan tamak. Bersihkanlah dahulu apa yang ada di dalam cawan itu, baharu luarnya menjadi bersih juga.” Matius 23:28 “Demikianlah di luar kamu nampaknya baik kepada orang, tetapi di dalam, kamu semata-mata berpura-pura dan penuh dengan dosa”.

Disini jelas Nabi Isa membenci sifat hipokrit didalam amalan agama. Saya tahu melalui pengalaman saya sendiri betapa senangnya untuk bersolat 5 kali sehari, berpuasa sebulan tetapi dalam hati saya penuh dengan perasaan hasad dengki terhadap orang lain dan dibelakang orang saya mencaci atau bercakap buruk mengenai mereka. Saya sedar setelah membaca ayat ini betapa benarnya apa Nabi Isa berkata mengenai sifat manusia yang semulajadi. Oleh kerana sifat manusia ini yang tidak pernah jauh dari dosa—sebab itulah manusia tidak ada keupayaan untuk menyelamatkan diri mereka sendiri daripada bala api neraka. Dan hanya dengan kematian Nabi Isa dosa manusia dapat ditebus. Allah telah memberi manusia penyelesaian kepada dilema manusia. Kita hanya perlu percaya dan menerima hakikat bahawa Nabi Isalah jalan pengampunan dosa kita kerana tanpanya kita tidak dapat menyelamatkan diri kita sendiri.

Setelah memikirkan semua yang telah saya baca dalam kitab Injil, saya mengambil keputusan untuk memeluk agama Kristian. Semenjak hari itu, saya tidak pernah kesal dengan keputusan ini.

Saya boleh dihubungi melalui alamat emel to_aishah@yahoo.com.

Aishah

Categories: Mualaf Bersaksi
Tagged:

KESAKSIAN CHARIAH

July 17, 2008 · Leave a Comment

Saya telah dilahirkan anak lelaki kepada keluarga Muslim di Malaysia. Keluarga kami mempunyai tradisi keagamaan dan politik yang panjang dan penting di Malaysia. Sebagai orang-orang kenamaan di dalam sebuah negara Islam, agama Islam telah memainkan peranan utama dalam semua aspek kehidupan seharian kami.

Saya telah dibesarkan mengikut adat istiadat Islam, diajar bahasa Arab, pendidikan Al-Qur’an, upacara-upacara penyucian, doa, puasa dan sebagainya. Tetapi saya juga mempunyai kesempatan untuk kerap mengembara dan bermastautin semasa kecil di berbagai-bagai negara asing dan menimba ilmu pengetahuan mengenai kebudayaan-kebudayaan dan agama-agama yang berlainan. Saya berpeluang berkenalan dengan penganut-penganut agama Buddha, Hindu, Yahudi, Kristian dan teramat ingin tahu, yang manakah satu-satunya agama yang betul. Memang jelas tidak mungkin adanya Allah yang Esa tetapi ada pula pelbagai jalan untuk mengenal Dia kerana ajaran dan perintah-perintah setiap agama itu kerap bercanggah; maka tidak mungkinlah Allah yang sama yang memberi ajaran agama-agama tersebut kepada manusia. Renungilah alam ciptaan-Nya! Belajarlah hukum-hukum fizik. Setiap hari kita dapat menikmati seorang Pencipta dengan kebijaksaan, pengetahuan dan logik yang tidak terbatas! Selanjutnya, Pencipta ini tidak mungkin begitu mengelirukan dan kelam kabut seperti yang dilambangkan oleh agama-agama di dalam dunia ini.

Saya teringat kepada satu peristiwa ketika berumur enam tahun. Oleh kerana darjatnya ayah sering ke merata-rata tempat sehingga kadang-kadang saya tidak bertemu dengannya untuk berbulan-bulan. Pada suatu hari, saya amat merinduinya dan ingin bertemunya. Terlintas pada fikiran saya pula untuk berdoa kepada Allah agar membawa ayah pulang. Tetapi pada ketika itu, timbul pula masalah yang besar! Saya maklum akan bagaimana berdoa dalam bahasa Arab dan juga upacara penyucian tetapi saya tidak erti langsung bagaimana berdoa kepada Allah untuk keperluan yang khusus. Saya tidak mampu berdoa kepada Allah untuk hasrat itu dalam tertib yang berpatutan, disusuli dengan ayat-ayat yang betul dan teratur bentuknya. Saya hanya mengenal Allah sebagai Tuhan yang sangat, sangat jauh. Dia Tuhan Kudus yang hanya dapat dijangkau melalui pendalaman ilmiah Al-Qur’an berserta perintah-perintah di dalamnya, upacara-upacara penyucian yang betul serta Bahasa Arab yang betul. Sebaliknya, saya mempelajari bahawa agama Kristian itu sebagai agama yang mudah, berasaskan kasih dan maaf – yang sentiasa sedia menerima mereka yang lemah dan tidak layak. Saya selalu kagum apabila menonton filem-filem Kristian semasa kecil. Sebagai contoh, dalam kisah Quo Vadis, golongan orang Kristian yang ditindas dan diseksa oleh orang Rom, dengan hati yang rela sedia memaafkan perbuatan orang Rom yang keji itu. Golongan orang Kristian itu kemudiannya telah dibuang untuk dibaham singa-singa buas yang lapar di gelanggang perlawanan (amphitheater). Berhadapan dengan maut, mereka mula memuji dan menyembah Tuhan mereka. Saya dapat merasai satu tenaga kuat yang tidak dapat dijelaskan tersebar daripada kumpulan Kristian itu. Mereka lemah, namun kuat. Mereka menghadapi maut, tetapi pasti akan hidup untuk selama-lamanya. Saya sangat kagum tetapi juga keliru. Akhirnya, saya membuat keputusan untuk berdoa dengan neutral dan memohon kepulangan ayah tidak lewat dari esok.

Pada keesokan harinya, terdapat ketukan di pintu. Ketika saya membuka pintu, terlihatlah wajah ayah yang bersenyum ke arah saya. Ayah memaklumkan bahawa dia mahu memeranjatkan kami dengan kepulangannya! Alangkah gembiranya perasaan saya dan saya tahu bahawa doa saya itu telahpun dikabuli Allah. Pada waktu itu, saya sudah yakin akan kewujudan Allah. Tetapi masih terletak pada hati saya azam untuk mengetahui siapakah Allah yang sebenarnya!

Ketika di tanahair, saya dapati bahawa adat istiadat dan hukum-hukum Islam sukar dituruti. Semasa bulan Ramadan bulan puasa, saya dilarang menelan air liur. Apabila saya terkentut selepas membersihkan diri sebelum bersembahyang, haruslah membersihkan diri sekali lagi. Jika pula menguap, ayat-ayat Al-Qur’an mesti dibaca untuk mencegah diri dari dirasuk oleh makhluk halus yang masuk melalui mulut. Saya juga dilarang menyentuh anjing, mahupun bermain dengan anjing mainan. Antara barang kepunyaan saya ialah rantai leher yang terhias dengan ayat-ayat suci yang mesti ditanggalkan sebelum ke tandas. Terdapat beribu-ribu lagi perintah-perintah yang harus ditaati sehingga saya menjadi sangat takut sekiranya melakukan kesilapan dan seterusnya gagal. Maka, saya tidak dapat menemui ketenteraman jiwa.

Pada satu ketika, saya telah menerima sebuah Al-Kitab dan mula membacanya. Saya membaca keempat-empat Injil Matius, Markus, Lukas dan Yahya di dalam Perjanjian Baru. Setiap ayat yang dibaca menyeru kepada hati saya. Saya dapati bahawa di depan Allah, kita semua pendosa. Tidak kira betapa kuat dan tekunnya kita cuba memenuhi kehendak hukum-hukum itu, kita tidak mungkin akan berjaya. Ini kerana Allah itu lebih Kudus dari yang disangka. Cuma satu dosa memadai dalam hidup kita untuk membatalkan kemasukan kita ke dalam Syurga. Tambahan pula saya mengakui bahawa saya telah berdosa sekurang-kurangnya sekali di dalam hidup saya. Tetapi Allah telahpun berfirman: (Efesus 2:8) “Hal ini demikian, kerana dengan rahmat Allah, kamu diselamatkan oleh sebab kamu percaya kepada Yesus. Penyelamatan itu bukan hasil usaha kamu sendiri, melainkan kurnia Allah.”

***Pada satu hari, ayah dan saya sakit tenat. Saya telah menemui beberapa orang doktor, tetapi mereka semua tidak berjaya menentukan jenis penyakit itu. Biarpun saya memakan semua ubat yang diberikan, saya merasa letih dari hari ke hari. Saya telah hilang berat badan sebanyak dua belas kilogram dan terasa bahawa sudah hampir tiba masanya untuk menemu ajal. Kemudian barulah saya mula berdoa kepada Allah. Saya mengaku segala dosa-dosa saya dan memohon ampun dari Allah. Saya menerima korban yang diberi Allah melalui anaknya Yesus Al-Masih dan kematian Yesus sebagai ganti saya untuk dosa-dosa saya. Walaupun saya tidak terdaya untuk makan, berdiri atau melakukan apa-apa perkara yang fizikal – saya berupaya untuk berdoa dan bersedia untuk bertemu dihakim-Nya pada Hari Kiamat buat selama-lamanya. Memanglah menjadi hasrat saya untuk ke syurga.

Setelah empat atau lima hari terlantar di dalam bilik tanpa rawatan, saya dimasukkan ke dalam hospital. Di masa yang sama, ayah dimasukkan ke dalam Unit Rawatan Rapi (ICU). Pada satu pagi, saudara-mara saya telah mengejutkan saya dari tidur dan menyampaikan berita sedih bahawa ayah telahpun meninggal dunia…

Punca rasmi kematian arwah ayah ialah kerana lemah jantung. Tetapi sebenarnya, doktor-doktor tidak dapat mengenal pasti punca penyakit yang dihidapi kedua-dua ayah dan saya. Terdapat khabar angin bahawa kami berdua telah diracun ataupun mangsa-mangsa ilmu sihir. Saya percaya bahawa saya masih hidup kerana firman-Nya di dalam Markus 16:17-18 yang berbunyi “Kepada mereka yang percaya akan diberi tanda-tanda ini: Mereka akan mengusir roh jahat demi nama-Ku; mereka akan berkata-kata dalam bahasa yang tidak diketahui. Jika mereka memegang ular atau meminum racun, mereka tidak akan mendapat celaka. Jika mereka meletakkan tangan pada orang sakit, orang sakit akan sembuh”

Beberapa tahun kemudian saya telah menghidap penyakit batin pula dan pakar psikologi tidak dapat membantu saya. Saya terkenang akan kepada Allah, yang mampu menolong dalam situasi-situasi yang rumit; Allah yang menyebabkan orang yang beriman kepada-Nya rela memaafkan musuh-musuh mereka dan menyembah Dia ketika berhadapan maut di gelanggang lawan itu (amphitheater); Allah yang mampu memulihkan apabila seorang itu terminum racun dan juga yang rela membantu ketika kemasyghulan. Secara kebetulan isteri saya telah membawa saya ke upacara ibadat seorang Evangelist (pengkhabar Berita Baik) Amerika (Ray Jennings). Di sanalah kami sekeluarga menukar kepercayaan kepada agama Kristian. Si Evangelist itu menumpangkan tangannya di atas saya lalu berdoa untuk penyembuhan saya. Dengan serta-merta, saya dipulihkan menurut firman Allah: “Kepada mereka yang percaya akan diberi tanda-tanda ini: … jika mereka meletakkan tangan pada orang sakit, orang sakit akan sembuh”

Pada hari ini saya bergerak dengan kehadiran Allah dalam hidup saya dan saya tahu bahawa Dia bersama saya. Kerana itu, saya mahu kamu tahu, wahai si pembaca Muslim, bahawa Allah yang Esa dan benar yang diperkisahkan Al-Kitab itu akan juga bersama-sama kamu apabila kamu membuat keputusan untuk mengikut cara yang ditunjukkan Isa.

Categories: Mualaf Bersaksi
Tagged: