Suarakan Kebenaran Walaupun Pahit

Entries tagged as ‘Muhamad’

Mengapa Muhamad mempunyai banyak istri?

July 17, 2008 · Leave a Comment

Kata Pengantar

Orang Islam akan mengatakan pada anda bahwa seorang lelaki Islam dapat mempunyai istri hingga empat orang dalam satu waktu, dan itu berdasar pada Sura 4:3. Dengan tegas apa yang ada dalam Sura bukanlah kebenaran yang lengkap, sebagai seorang Islam ternyata juga dapat memiliki selir atau gundik sampai jumlah yang tak terbatas dan melakukan hubungan seksual dengan” para wanita kepunyaan dari tangan kanan mereka” (Sura 23:5-6; 33:50,52; 4:24; Sura 70:29-30). Bagaimanapun juga, walaupun, Muhamd telah menyatakan sebuah ayat dalam Qur’an (Sura 33:50) yang membuat pengecualian yaitu untuk satu orang:dirinya sendiri. Mengapa begitu?

Aisha  mengucapkan “Sepertinya bagi saya terlihat bahwa Tuhanmu segera untuk memuaskan keinginanmu” Sahih Muslim vol.2 buku 8 no.3453-3454 hal.748-749.

Dilain hal, seorang Islam mengatakan pada saya bahwa setiap pernikahan yang ada hanya untuk tujuan kemanusiaan atau kekerabatan. Aisha dan beberapa istri adalah anak perempuan dari para penguasa yang hebat yang Muhamad sangat butuhkan untuk mendukungnya. Dan yang lain seperti para janda, “dijaga” oleh Muhamad setelah suami mereka meninggal. Saya bertanya, seakan-akan tidak percaya, apakah memang agama Islam megajarkan bahwa setiap pernikahan hanya untuk perkara yang seperti ini? Ketika ia mengatakan”ya”, lalu saya bertanya lagi, ”bagaimana tentang Safiyah dan Zainab binti Jahsh?Ketika ia tidak

sadar tentang itu, orang Islam lainnya (seperti juga non Muslim) mungkin bukan keduanya. Sebagai keakuratan dari sumber dan informasi yang saya dapat, ini semua datang dari Qur’an sendiri atau otorisasi Hadits dari Islam Sunni.

Para Istri Muhamad

Dibawah ini adalah nama istri-istri dari Muhamad yang ditulis oleh cendikiawan Islam Ali Dashti. Ia mungkin menulis banyak berdasar pada daftar yang paling terdahulu dari Sejarah al-Tabari vol .9 hal.126-241. Hal itu disebutkan bahwa cendikiawan dan Hadist tidak sepenuhnya setuju dengan para istrinya Muhamad. Contohnya beberapa Hadist (bukan Bukhari atau Sahih Muslim) menyebutkan ada sepasang istri yang ia ceraikan, namun hal ini tidak ditunjukkan disini. Oleh karena itu, daftar dari Ali Dashti ini, yang mungkin tidak sepenuhnya menyetujui tentang kelengkapan, menunjukkan banyaknya istri dari Muhamad. Berikut ini adalah bukti dari Hadist, Ali Dashti yang independent, pada hubungan ini.

1. Khadija/Khadijah binti Khuwailid/Khywaylid – meninggal pertama

2. Saudah/Sauda binti Zam’a

3. ‘Aisha/Aesha/’A’ishah –usia 8 sampai 9 tahun, sebagai istri kedua.

4. Omm/’Umm Salama/Salamah

5. Hafsa/Hafsah

6. Zaynab/Zainab dari Jahsh

7. Jowayriya/Juwairiyya binti Harith

8. Omm Habiba

9. Safiya/Safiyya binti Huyai/Huyayy bint Akhtab

10. Maymuna/Maimuna dari Hareth

11. Fatima/Fatema/Fatimah

12. Hend/Hind

13. Asma dari Saba

14. Zaynab dari Khozayma

15. Habla?

16. Asma dari Noman / binti al-Nu’man

¾selir/gundik¾

17. Maria orang Kristen

18. Rayhana/Raihana/Rayhanah binti Zayd/Zaid

¾Dalam Hubungan yang tidak jelas -

19. Omm Sharik

20. Maymuna/Maimuna (budak perempuan?)

21. Zaynab/Zainab ketiga?

22. Khawla / Khawlah

¾Ali Dashti melewatkan sedikitnya sembilan istri lagi.

Muhamad menikahi 15 wanita dan melakukan hubungan pernikahan dengan 13 wanita. (al-Tabari vol.9 hal.126-127)

Bukhari vol.1 Buku 5 bag.25 no.282 hal.172-173 mengatakan bahwa [dalam satu ketika] Muhamad bisa mempunyai sembilan istri.

Berikut ini adalah penggambaran singkat tentang Hadist dan sejarah Islam awal yang mengatakan istri-istri dari Muhamad.

1. Khadija/Khadijah

(dilapalkan ka-DI-ja) binti Khuwailid/Khuwaylid Sahih Muslim vol.4 buku 29 no.5971-5972 hal.1297 meninggal tiga tahun sebelum Aisha menikah dnegan Muhamad. Dia disebutkan dalam Bukhari vol.5 buku 58 no.164,165 hal.103.

Nama Lengkap dari istri pertama Muhamad adalah Kadijah, anak perempuan dari Khuwaylid bin Asad bin. ‘Abd al-‘Uzza bin Qusayy. al-Tabari vol.39 hal.3

Muhammed  baru berumur 20 tahun ketika ia menikah dengan Khadijah, seorang janda. al-Tabari vol.9 hal.127.

‘Aisha mengatakan bahwa Khadija membawa Muhamad untuk menjadi orang Kristen yang biasa membaca Injil dalam bahasa Arab. Bukhari vol.4 buku 55 bag.17 no.605 hal.395

A’isha cemburu pada Khadijah. “Pada hal itu, Nabi teringat cara ketika Khadijah saat memohon izin, dan membuatnya sedih. Ia katakan, ‘O Allah Hala!’ Maka aku [Aisha] cemburu dan berkata, “apa yang membuat kamu teringat pada seorang wanita tua diantara wanita Quraish yang mana seorang wanita tua (dengan giginya yang ompong) dengan getah merah yang telah meninggal bertahun-tahun lalu, dan ditempat yang manakah Allah memberikanmu seseorang yang lebih baik darinya?”   Bukhari vol.5 buku 58 no.168 hal.105

2. Sauda/Sawda binti Zam’a/Zam’ah

Sahih Muslim vol.2 buku 8 no.3451 hal.747; Bukhari vol.3 buku 34 bag.4 no.269 hal.154; vol.3 no.853 hal.29; Sahih Muslim vol.2 buku 7 no.2958 hal.651; Sahih Muslim vol.2 pada catatan kaki 1918 hal.748 mengatakan bahwa mungkin Aisha telah dinikahi Muhamad sebelum Sauda, tapi Aisha tidak dapat memasuki rumah Muhamad sampai Sauda juga dinikahi oleh Muhamad.

Terdapat ketidaksetujuan tentang apakah Muhamad melakukan hubungan pernikahan dengan Saudah atau Aisha nantinya, namun al-Tabari vol.9 hal.128-129 mengatakan itu adalah Saudah.

Mantan suami Saudah, al-Sakran bin. ‘Amr bin. ‘Abd Shams menjadi seorang Krsiten di Abyssinia dan meninggal disana. al-Tabari vol.9 hal.128

Secara fisik Aisha menyebut Saudah “nyonya berlemak banyak”. Bukhari vol.6 buku 60 bag.241 no.318 hal.300

Ketika Saudah merasa dirinya sudah tua, ia takut jikalau Muhamad menceraikannya, maka ia memberi penggantinya yaitu Aisha. Abu Dawud vol.2 no.2130 hal.572

Sauda juga disebutkan dalam al-Tabari vol.39 hal.169.

3. Aisha

Aisha adalah anak perempuan dari Abubakar. Ibunya bernama Umi Ruman sesuai dengan al-Tabari vol.9 hal.129. Ia menikah dengan Muhamad ketika ia berumur enam tahun, namun ia dibawa ke rumah Muhamad ketika ia berusia sembilan tahun. Bukhari vol.7 buku 62 bag.60 no.88 hal.65; Sahih Muslim vol.2 buku 8 no.3309,3310,3311 hal.715,716

Bantahan terhadap pernikahan ini menjadi pemting untuk alas an politik, yang mana Abu Bakar menjadi orang pertama yang pindah ke Islam.

Istri Muhamad ini disebutkan dalam beberapa buku, termasuk Sahih Muslim vol.1 buku 4 no.1694 hal.372; Abu Dawud vol.1 no.1176 hal.305; vol.1 no.1268 hal.335; vol.1 no.1330 hal.350; Abu Dawud vol.1 no.1336 hal.351; vol.1 no.1419 hal.373; vol.2 no.2382 hal.654.

Aisha sedang bermain dengan bonekanya ketika Muhamad datang. Sahih Muslim vol.4 buku 29 no.5981 hal.1299

Aisha masih berumur enam tahun (atau tujuh tahun) ketika ia menikah, lalu diumur sembilan tahun ia sudah melakukan hubungan pernikahan. al-Tabari vol.9 hal.130,131

Aisha baru berusia enam tahun ketika menikah, dan ketika usianya sembilan tahun barulah ia dibawa ke rumah Muhamad. Ibn-i-Majah vol.3 no.1876 hal.133

Aisha menikah diusia tujuh tahun, dan ia tinggal dengan Muhamad ketika berumur sembilan tahun, lalu ia meninggal diusia delapan belas tahun. (belum sah) Ibn-i-Majah vol.3 no.1877 hal.134

Penjelasan yang rasional mengenai mengapa Muhamad menikahi seorang gadis kecil dijelaskan dalam Sahih Muslim vol.2 catatan kaki 1859 hal.715. Yang mana dikatakan bahwa “Itu adalah situasi pengecualian dimana Hadrat Aisha menikah dengan Nabi… Poin kedua yang dijelaskan bahwa Islam tidak mempunyai batasan usia untuk pubertas dalam keragaman suatu negara ataupun ras yang lebih disebabkan iklim, keturunan, fisik, dan kondisi sosial.” Mereka juga menyebutkan dukungan dari laporan sebuah majalah yang tidak mempunyai reputasi, Kinsey, yang dalam laporannya bertuliskan Sexual Behaviour in the Human Female.

Muhammed sendiri sesekali pernah dengan sengaja memukul Aisha “di dada yang mana membuat saya sakit”, menurut Sahih Muslim vol.2 buku 4 bag.352 no.2127 hal.462.

Terdapat suatu ketidak setujuan juga. Suatu kejadian, dimulai dengan ketika Aisha sakit, lalu Muhamad pergi dari istri-istrinya selama satu bulan (29 hari) Ibn-i-Majah vol.3 no.2060 hal.241. Ibn-i-Majah vol.3 no.2063 hal.243. Ini adalah pernyataan Sura 50:1.

Budak dari Aisha

Aisha mempunyai sedikitnya satu orang pembantu yang bertugas memasak masakan untuknya selama masa pengutusan dari Banu’l Muntafiq. Abu Dawud vol.1 no.142 hal.34

Aisha mempunyai seorang budak laki-laki seorang Islam yang kemudian ia menamakannya Abu Yunus. Sunan Nasa’i vol.1 no.475 hal.340

Aisha mempunyai seorang budak perempuan. Abu Dawud vol.1 no.371 hal.96

Barirah adalah budak perempunan dari Aisha, yang mana kemudian ia dibebaskan. Abu Dawud vol.2 no.2223 dan catatan kaki1548 hal.601

Aisha juga adalah seorang yang cepat marah, ia memukul tangan seorang pembantunya dan bahkan memecahkan mangkukyang berisi makanan yang dikirim untuk Muhamad, karena yang mengirim adalah istrinya yang lain. Abu Dawud vol.2 no.3560-3561 hal.1011

Aisha mempunyai suara yang keras dan lantang. al-Tabari vol.17 hal.65

Aisha dengan senonoh membebaskan para budaknya dengan tujuan pembatalan janji. “ Ia [Ibn Az-Subair] mengirimkannya [‘Aisha] sepuluh budak yang ia bebaskan kemudian sebagai kompensasi atau penebusan janjianya. Aisha membebaskan akhirnya terus membebaskan para budaknya sampai skitar empat puluh budak ia bebeskan dengan tujuan yang sama. Ia katakan ‘saya harap saya dapat mengatakan apa yang saya lakukan seperti dalam masalah janji saya yang saya tidak penuhi ketika saya membuatnya, dengan tujuan saya dapat melakukannya dengan mudah’ “ (1) catatan kaki (1) mengatakan, “ Aisha tidak mengatakan apa yang ia lakukan karena ia tidak dapat menjaga janjinya, ini mengapa ia membebaskan banyak budak dengan tujuan agar ia merasa adanya ketentraman dan kepuasan atas permintaan maafnya.” Bukhari vol.4 buku 56 bag.2 no.708 hal.465.

Berapa banyak budak yang Aisha miliki? Atau berapa banyak uang yang ia miliki untuk membeli sekitar empat puluh budak tersebut? Hadist tidak mengatakan hal tersebut. Hanya ada dua hal yang saya temukan yaitu:

1) Para istri Muhamad dapat memerintah sekitar sepuluh budak. Ibn-i-Majah vol.3 no.1771 hal.67.

2) Seperlima dari rampasan hasil perang menjadi harta kekayaan orang Islam, dan Muhamad mempunyai jatah untuk ia dan juga istri-istrinya. Sahih Muslim vol.2 no.2347,2348; vol.2 catatan kaki 1463 hal.519; Bukhari vol.4 buku 51 bag.80 no.153 hal.99; vol.6 buku 60 bag.297 no.407 hal.379

Aisha dan Perang Unta

Aisha adalah orang pertama yang mendukung perihal pembunuhan terhadap Utman. Ia menyatakan bahwa Utman telah menjadi orang kafir dan tidak berkepercayaan lagi. Namun, setelah pembunuhan Utman dilakukan ia justru mengubah pemikirannya dan ingin menghukum orang-orang yang telah membunuh Utman. Orang Islam memanggilnya untuk melakukan hal tersebut. al-Tabari vol.17 hal.52-53

Setelah ini, Mu’awiyah menunjuk Muhamad bin Abu Bakar untuk dieksekusi dengan alasan pembunuhan Utman, dan lalu tubuhnya ditaruh diatas keledai yang kemudian dibakar pada tahun 38 A.H. Aisha sangat berduka atas saudaranya itu, ia pun memanjatkan doa khusus untuknya. al-Tabari vol.17 hal.158

4. Umi Salama

Umi Salama binti Abi Umayyah (membicarakan hal yang intim dengan rasulAllah) Sahih Muslim vol.2 no.2455 p.540

Umi Salama mempunyai nama asli Hind binti Abi Umayyah bin al-Mughirah bin ‘Abdallah bin ‘Umar bin Makhzum. al-Tabari vol.9; hal.133; vol.39 hal.175.

Umi Salama (tidak dikatakan menjadi seorang istri ) Sahih Muslim vol.2 no.2992 hal.656; vol.2 no.3445 hal.746; istri Bukhari vol.4 buku 53 bag.4 no.333 hal.216; Bukhari vol.7 buku 62 bag.34 no.56 hal.40. Ibn-i-Majah vol.2 no.1634 hal.473; Abu Dawud vol.1 no.383 hal.99. Muhammad menikahi Umi Salama, seorang janda Abu Salama (meninggal tahun 4 A.H. di Abyssinia). Al-Tabari vol.39 hal.175. Umi Salama meninggal pada tahun 59 H. ketika ia berumur 84 tahun. Sahih Muslim vol.2 catatan kaki 1218 hal.435. Umi Salama sedang hamil ketika Muhamad menikahinya dan anak perempuannya itu diberi nama Zainab binti Abu Salama (Sahih Muslim vol.2 no. 3539-3544 hal.776-777. (Ini adalah gadis yang sama sebagai Zainab binti Umi Salama)

Istri Muhamad yang ini juga disebutkan dalam Abu Dawud vol.1 no.274 hal.68; vol.3 no.4742 hal.1332; vol.2 no.2382 hal.654; Sunan Nasa’i vol.1 no.240 hal.228; Ibn-i-Majah vol.3 no.1779 hal.72; al-Tabari vol.17 hal.207; al-Tabari vol.39 hal.80

Umi Salama sudah mempunyai seorang anak laki-laki sebelum ia menikah dengan Muhamad. Namun anaknya itu telah pergi dengan Aisha, al-Zubayr, dan Talhah. Dalam  al-Tabari vol.17 hal.42

Teman Umi Salama adalah Naban (= Abu Yahya) dan Ma’in bin Ujay (=Abu Qudamah al-Tabari vol.39 hal.320

5. Hafsa/Hafsah

Anak perempuan dari Umar bin Khatab disebutkan dalam Sahih Muslim vol.2 no.2642 hal.576; vol.2 no.2833 hal.625; vol.2 no.3497 hal.761; Abu Dawud vol.2 no.2448 hal.675; vol.3 no.5027 hal.1402. Ia adalah anak perempuan Umar bin al-Khatab. Ia masih berusia 18 tahun ketika menjadi janda Kunais dan menikah dengan Muhamad pada tahun 625 A.D. Ia lahir pada tahun 607 A.D dan meninggal sekitar tahun 647/648, 661/662, atau tahun 665 A.D. Ia juga disebutkan sebagai istri Muhamad dalam Ibn-i-Majah vol.3 no.2086 hal.258

Setelah suami Hafsa meninggal karena tertembak di Uhud, ayah Hafsa berpikir untuk menikahi Hafsa dengan Utman, namun Utman menolaknya karena ia tahu Muhamad menginginkan Hafsa untuk menjadi istrinya. Mereka menikah tahun 3 A.H. Hafsa lebih tua empat tahun dibanding dengan Aisha.  Sunan Nasa’i vol.1 #32 hal.117. Oleh karena itu Muhamad tidak menikahinya hanya untuk memenuhi kebutuhan Hafsa. Muhamad lebih suka menikahi seseorang yang sebelumnya telah menjadi istri orang lain.

Konflik : ‘Umar mengatakan pada Hafsa untuk tidak menggangu Aisha yang sangat bangga akan kecantikannya dan Muhamad pun mencintainya. Bukhari vol.7 buku 62 bag.106 no.145 hal.108. Hafsa mengatakan pada Aisha “Saya tidak pernah mendapat perlakuan yang baik darimu!” Bukhari vol.9 buku 92 bag.5 no.406 hal.299-300

Umar mengatakan Muhamad menceraikan Hafsa (membatalkan perceraian) lalu membawanya kembali. Abu Dawud vol.2 no.2276 hal.619. Menurut Ibn Ishaq, Mohammad menceraikan Hafsa tapi membawanya kembali. al-Tabari vol.9 catatan kaki 884 hal.131.

“Yahya … dari Malik dari Muhamad ibn Abdul ar-Rahman…yang mana ia dengar bahwa Hafsa…membunuh salah satu budak perempuannya yang hendak membunuhnya menggunakan ilmu sihir. Ia adalah seorang mudabara. Hafsa menyuruh seseorang untuk membunuhnya, dan iapun dibunuh” Muwatta Malik 42.19.14

Hafsa, istri Muhamad, meninggal ketika ia berusia 60 tahun. al-Tabari vol.39 hal.174

6. Zainab binti Jahsh

Sahih Muslim vol.2 no.2347 hal.519; vol.2 no.3330 hal.723,724; vol.2 no.3332 hal.725; vol.2 no.3494 hal.760. Bukhari vol.3 buku 33 bag.6 no.249 hal.138; vol.3 no.829 hal.512; vol.4 no.6883 hal.1493; Nama asli Zaynab adalah “Barrah”, tapi Muhamad menggantinya menjadi Zaynab. Bukhari vol.8 buku 72 bag.108 no.212 hal.137; Abu Dawud vol.3 no.4935 hal.1377-1378. Abu Dawud vol.1 no.1498 mengatakan nama Juwairyiha biasanya Barrah.

Sura 33:36-38 dalam Qur’an mengatakan” ini tidak untuk orang percaya lainnya, laki-laki atau perempuan, ketika Tuhan dan utusanNya memutuskan sesuatu, untuk membuat pilihan dalam suatu hubungan. Siapapun yang tidakj patuh pada Allah dan utusanNya dibuat hilang dan menjadi kesalahan yang besar. Ketika anda mengatakan padanya yang mana Allah telah memberkatinya dan anda menyukainya ‘Jagailah istrimu untuk dirimu sendiri, dan takutlah pada Allah’ dan anda sedang bersembunyi dalam diri anda akan apa yang Allah harus tunjukkan, takut pada sesama, dan Allah mempunyai hak yang lebih baik untuk anda untuk takut padanya. Maka ketika Zaid menyelesaikan apa yang ia inginkan darinya, lalu kita akan memberinya untuk dinikahi, maka tidak akan ada kesalahan pada orang percaya, menyentuh istri dari anak laki-laki yang diadopsi, ketika mereka menyempurnakan apa yang akan mereka lakukan terhadapnya, dan perintah Allah harus ditunjukkan. Tidak ada pada nabi, menyentuh apa yang Allah telah tahbiskan untuknya.”

Zainab binti Jahsh menikah dengan anak adopsi laki-laki Muhamad, sampai Muhamad berbicara mengenai Sura yang mengatakan bahwa ia harus bercerai dengan suaminya atau anak laki-lakinya itu dan menikah dengannya. Zainab “telah mengatakan lebih dulu sebelum para istri nabi, dan menyatakan bahwa Allah menikahi saya (melalui Nabinya) di Surga” Bukhari vol.9 buku 93 bag.22 no.517 hal.382. Juga vol.9 buku 92 bag.22 no.516,518 hal.381-383; al-Tabari vol.9 hal.133. Dilain hal, dalam Qur’an yang ada di Surga yang tak diciptkan itu, pernikahan Zainab telah disebutkan.

Zainab anak Jahsh mempunyai saudara laki-laki yang telah meninggal sebelum ia ada. Abu Dawud vol.2 no.2292 hal.624

Suatu peryataan dugaan bahwa Zaid menceraikan istrinya Zainab hanya karena Muhamad akan menikahinya.. al-Tabari vol.39 hal.180-182

Zainab binti Jahsh meninggal pada usia 53 tahun. al-Tabari vol.39 hal.182

Zainab (tak diberinama) Sahih Muslim vol.2 no.2641,2642 hal.575,576.

Zainab binti Jahsh seharusnya tidak perlu bingung dengan Zainab yang merupakan istri Abu Sa’id al-Khudri. Ibn-i-Majah vol.3 no.2031 hal.223

Zainab [secara verbal] menyakiti A’ishah, maka Muhamad mengatakan pada Aisha untuk mencerca balik. “…RasulAllah (semoga damai menyertainya) datang padaku [Aisha] ketika Zainab anak Jahsh sedang bersama dengan kita. Ia mulai menggunakan tangannya untuk melakukan sesuatu, Aku mengerti memberinya suatu tanda padanya sampai saya membuatnya mengerti padanya. Maka ia berhenti. Zainab datang dan mengina Aisha. Ia mencegahnya tetapi ia tidak menghentikannya. Lalu ia (Nabi) datang dan berkata pada Aisha : caci maki dia. Lalu ia mencacimaki Zainab dan menguasainya. Zainab lalu pergi ke Ali dan berkata: Aisha telah menghina saya dan melakukan (ini dan itu) Fatimah pun datang (pada Nabi) dan berkata padanya: ia adalah anak kesayangan bapamu, Tuhan dari Ka’abah! Ia kemudian kembali lagi dan mengatakan pada mereka : saya mengatakan padanya beberapa hal, dan ia mengatakan padanya beberapa hal pula. Lalu Ali datang pada Nabi (semoga damai menyertainya) dan berbicara dengannya tentang itu” Abu Dawud vol.3 no.4880 hal.1364-1365

Dalam Alkitab Maleakhi vol.12 no.16 dikatakan bahwa Tuhan benci pada perceraian.

7. Juwairiya

Juwairiya binti Harith/al-Harith adalah seorang budak tahanan. Bukhari vol.3 buku 46 bag.13 no.717 hal.431-432. Sahih Muslim vol.2 no.2349 hal.520 mengatakan bahwa Muhamad menyerang bangsa Bani Mustaliq tanpa peringatan ketika mereka sedang melakukan pekerjaan dipeternakannya. Juwairiya adalah anak perempuan dari seorang tukang masak. Sahih Muslim vol.3 no.4292 hal.942 dan Abu Dawud vol.2 no.227 hal.728 dan al-Tabari vol.39 hal.182-183 juga mengatakan Juwairiya ditangkap dalam penyerangan terhadap bangsa Banu Mustaliq. Ia telah menikah dengan Musafi bin Safwan, yang telah dibunuh dalam perang.

Istri Muhamad Juwairiya dulunya bernama Barrah. Abu Dawud vol.1 no.1498 hal.392. namun, Bukhari vol.8 buku 72 bag.107 no.212 hal.137; Abu Dawud vol.3 no.4935 hal.1377-1378 mengatakan dulunya nama Zainab juga Barrah.

Juwayriya binti al-Harith bin Abi Birar bin Habib, cucu laki-laki yang hebat Jadhimah al-Mustaliq dari kelompok Khuza, dirampas ketika orang Islam menyerang bangsa al-Mustaliq. Suaminya, Musafi bin Safwan Dhu al-Shuir bin Abi Asrb bin Malik bin Jadhimah dibunuh saat itu. Ia menjadi tawanan perang yang setuju untuk menikah dengan Muhamad. al-Tabari vol.39 hal.182-183; al-Tabari vol.9 hal.133.

Juwayriyya ditangkap dalam perang al-Muraysi [melawan bangsa Banu Mustaliq]. al-Tabari vol.39 hal.183

Juwayriyya menikah dengan Muhamad ketika berusia 20 tahun. al-Tabari vol.39 hal.184

8. Ummi Habiba

Ummi Habiba adalah anak perempuan Abu Sufyan al-Tabari vol.9 hal.133; Sahih Muslim vol.2 no.3413 hal.739; vol.2 no.2963 hal.652; Sahih Muslim vol.2 no.1581 hal.352; vol.2 no.3539 hal.776 Ibn-i-Majah vol.5 no.3974 hal.302; al-Tabari vol.17 hal.88

Ummi Habiba berusia 23 tahun lebih muda dari Muhamad. Sunan Nasa’i vol.1 #60 hal.127

Ummi Habiba dan suami pertamanya Ubaydallah adalah orang Islam yang pergi ke Abyssinia. ’Ubaydallah pindah ke agama Kristen. al-Tabari vol.39 hal.177

Menyebutkan Zainab binti Jahsh. al-Tabari vol.39 hal.180-182

Ummi Habiba, istri Muhamad tidak perlu dipusingkan dengan wanita lain yang juga bernama Ummi Habiba. Ia adalah anak perempuan Jashs, istri Abd al-Rahman dan saudara ipar Mohammad, karena Zainab anak Jahsh adalah istrinya. Abu Dawud vol.1 no.288 hal.73

9. Safiya/ Saffiya

Safiya binti Huyai/Huyayy adalah seorang budak tahanan yang Muhamad nikahi setelah memnghabisi nyawa ayah, saudara laki-laki, suami dan orang-orang Khaibar, menurut Bukhari vol.2 buku 14 bag.5 no.68 hal.35; vol.4 buku 52 bag.74 no.143 hal.92; vol.4 buku 52 bag.168 no.280 hal.175 dan al-Tabari vol.39 hal.185.

Suami Safiyah bernama Sallam bin Mishkam bin al-Hakam bin Harithah bin al-Khazraj bin Ka’b bin Khazraj. al-Tabari vol.9 hal.134-135.

Safiyyah dipanggil Safi, pada pembagian rampasan pertama, yang mana menjadi milik Muhamad. Abu Dawud vol.2 no.2988 hal.848; Abu Dawud vol.2 no.2985-2989 dan catatan kaki 2406 hal.846-849

Safiyya dibelikan oleh Muhamad tujuh orang budak. Ibn-i-Majah vol.3 no.2272 hal.357. Ia baru berusia 17 tahun ketika Muhamad menikahinya. al-Tabari vol.39 hal.184

Mohammad merasa senang terhadap Safiyya. “Jika Safiyyah tidak berduka, saya akan meninggalkannya saja sampai burung-burung dan binatang busa memakannya dan ia akan dibangkitkan lagi dalam kepercayaannya.” Abu Dawud vol.2 no.3130-3131 hal.893

Secara fisik, Saffiya itu pendek. Abu Dawud vol.3 no.4857 hal.1359

Ada konflik diantara para istri tersebut. Zainab tidak mau menyewakan untanya pada Saffiya ketika Muhamad menyuruhnya. Zainab menyebut Saffiya ”orang Yahudi” Abu Dawud vol.3 no.4588 hal.1293

Mohammad mempunyai sembilan istri dalam satu waktu, termasuk Saffiya binti Huyayy, dan kemudian ia tidak memberikannya “giliran”. Sahih Muslim vol.2 no.3455-3456 hal.749

Istri Muhamad ini juga disebutkan dalam Sahih Muslim vol.2 no.3325; vol.2 no.2783 hal.605; vol.2 no.3118 hal.678; vol.2 no.3497 hal.761; Bukhari vol.3 buku 33 bag.8-13 no.251-255 hal.139-143; vol.2 buku 21 bag.22 no.255 hal.143; Ibn-i-Majah vol.3 no.1779 hal.72; Abu Dawud vol.2 no.2464 hal.681; al-Tabari vol.39 hal.169

Safiya binti Abi ‘Ubaid istri Muhamad dalam Bukhari vol.4 buku 52 bag.136 no.244 hal.151 mungkin orang yang sama juga.

10. Maimuna binti Harith

Sahih Muslim vol.1 no.1671,1674,1675 hal.368-369; vol.2 no.1672 hal.369.

Mohammad menikahi Maymuna binti Al-Harith pada tahun 7 A.H. ketika Muhamad sedang dalam suatu ritual suci menuju kota suci Mekah. al-Tabari vol.8 hal.136; al-Tabari vol.9 hal.135

Maymuna telah bercerai sebelumnya, dan telah menjadi janda sebelum menikah dengan Muhamad. al-Tabari vol.39 hal.185. Maymuna berusia 80/81 tahun ketika meninggal. al-Tabari vol.39 hal.186

Maimuna berusia 30 tahun ketika Muhamad berusia 53 tahun menikahinya. Muhamad meninggal empat tahun kemudian. Sunan Nasa’i vol.1 #43 hal.120

Maimuna, istri Muhamad, mengintip Muhamad Bukhari vol.1 buku 5 bag.22 no.279 hal.170-171. Orang yang diintip ketika mereka mandi atau pergi ke kamar mandi. Tak ada yang salah, lagipula ia adalah istrinya.

Ata bin Yasar adalah seorang teman Maemunah. al-Tabari vol.39 p.317

Budak-budak: Budak-budak wanita yang dibebaskan oleh Maymunah diberikan seekor domba, yang nantinya akan mati. Ibn-i-Majah vol.5 no.3610 hal.93

Istri Muhamad yang ini juga disebutkan dalam: Ibn-i-Majah vol.3 no.2408 hal.435; Sunan Nasa’i vol.1 no.809 hal.492; vol.2 no.1124 hal.108; Abu Dawud vol.1 no.1351 hal.356; vol.1 no.1359,1360,1362 hal.357; Sunan Nasa’i vol.1 no.243 hal.229.

11. Fatima/ Fatimah

Fatima telah disebutkan oleh Ali Dashti. al-Tabari vol.9 hal.39 menyatakan bahwa Muhamad  menikahi Fatimah binti al-Dahhak bin Sufyan (juga disebut al-Kilabiyyah).dalam waktu yang singkat

Mohammad menikahi Fatimah binti Shurayh. al-Tabari vol.9 hal.139. Ini adalah hal yang agak aneh, jika Shuray dan al-Dahhak adalah dua orang yang berbeda, membuat dua orang Fatima, atau mungkin mereka menmberikan nama alternatif karena ayah yang sama.

Menyebutkan Fatimah bin al-Dahhabi, Alya binti Zahyah, Sana binti Sufyan al-Tabari vol.39 hal.186

Mohammad melakukan hubungan pernikahannya dengan “the Kilabiyyah”. Ini bisa mengarah pada Fatimah binti al-Dahhak bin Sufyan atau ‘Aliyah binti Zabyan bin ‘Amr bin ‘Awf atau Sana binti Sufyan bin ‘Awf.  al-Tabari vol.39 hal.187

Fatima, orang yang berbeda, anak perempuan Muhamad

Berikut ini mungkin adalah istri Muhamad, tapi bisa juga anak perempuan Muhamad. Dalam masa penyerangan Mekah, Fatima telah mengintip dengan Muhamad. Ibn-i-Majah vol.1 no.465 hal.255 dan Sunan Nasa’i vol.1 no.228 hal.224; vol.1 no.417 hal.307

Seorang Fatima mengintip Muhamad ketika ia sedang mandi dalam Bukhari vol.1 buku 5 bag.22 no.278 hal.170-171. Namun, Muhamad sedang mandi ketika ia diintipi oleh anak perempuannya Fatima dalam Bukhari vol.4 buku 53 bag.29 no.396 hal.263. Fatima adalah anak perempuan Muhamad dan juga istri dari Ali dalam Bukhari vol.3 buku 34 bag.29 no.302 hal.171; Bukhari vol.4 buku 53 bag.1 no.325 hal.208.

Mohammad tidak menginginkan Ali untuk menikahi orang lain kecuali anak perempuannya Fatima. Ibn-i-Majah vol.3 no.1998-1999 hal.202-204. Namun, Ali mempunyai seorang budak tawanan, anak perempuan dari Rab’iah, yang membosankan, anaknya itu bernama Umi Ruqayyah. al-Tabari vol.11 hal.66.

Menginginkan seorang budak: Ketika Muhamad memberikan banyak budak untuk Aisha, Fatima berpikir ia telah membuat keputusan yang buruk. Anak perempuan Muhamad, Fatima mengajukan pertanyaan pada Muhamad tentang pekerjaannya yang berat mengasah batu dan meminta untuk dibelikan budak. Muhamad tidak memberikannya yang ia minta, namun ia memberikan sesuatu yang lebih baik. Ia mengatakan pada Fatima untuk memuja Allah sebanyak 33 kali, bersukacita pada Allah sebanyak 34 kali, dan Allah menjadi 34 kali paling hebat. Abu Dawud vol.3 no.5044-5045 hal.1405

12. Hend/Hind

Hend/Hind yang sebelumnya menikah dengan Abu Sufyan, yang mana adalah orang yang sangat pelit. Menurut Sahih Muslim vol.3 no.4251-4254 hal.928-929.

13. Sana binti Asma’ / al-Nashat

Mohammad menikahi al-Nashat binti Rifa’ah dari bangsa Banu Kilab bin Rabi’ah, yang merupakan bagian dari persekutuan Qurayzah. Beberapa orang menyebutnya Sana binti Asma’ bin al-Salt al-Sulamiyyah; ketika yang lain menyapa Sana binti Asma’ bin al-Salt dari bangsa Banu Harm. However, ia meninggal sebelum melkaukan hubungan pernikahan dengan Muhamad. Ia juga dipanggil Sana. al-Tabari vol.9 hal.135-136. al-Tabari vol.39 hal.166 mengatakan hal yang sama tentang Sana binti al-Salt.

14. Zainab/Zaynab binti Khozayma/Khuzaima

Zainab yang ini adalah keturunan bangsa Banu Hilal. Ia bercerai dari seorang lelaki Islam bernama Tufayl, dan menikahi saudara laki-lakinya ‘Ubaydah, yang dibunuh di Badar. Lalu ia menikah dengan Muhamad. Ia lahir tahun 595 A.D dan meninggal 626 A.D diusia 31 tahun. Lihat al-Tabari vol.7 hal.150 catatan kaki 215,216 dan al-Tabari vol.39 hal.163-164 untuk info yang lebih lengkap.

al-Tabari vol.9 hal.138 juga mengatakan ia meninggal ketika Muhamad masih hidup.

Mohammad menikahi Zainab binti Khuzaima, tetapi ia meninggal sebelum Muhamad menikahinya. Sunan Nasa’i vol.1 #64 hal.129

15. Habla?

Habla ada dalam daftar Ali Dashti, tapi saya ada kesulitan dan tidak dapat menceritakannya lebih lanjut secara bebas.

16. Janda Asma’ binti Noman

Asma binti Noman, atau Asma binti al-Nu’man bin Abi Al-Jawn, dari bangsa Kindah, telah menikah dengan Muhamad, namun ia tidak pernah melakukan hubungan pernikahan dengannya. al-Tabari vol.10 hal.185 dan catatan kaki 1131 hal.185.

Anak perempuan dari Al Jahal ini dinikahi oleh Muhamad hanya dalam waktu yang sangat singkat. Bukhari vol.7 buku 63 no.181 hal.131,132

Dilain hal, al-Tabari vol.10 hal.190 mengatakan bahwa Al-Nu’man al-Jahal menawarkan anak perempuannya pada Muhamad, tetapi Muhamad menolaknya. Mungkin “menolak” berarti Muhamad menceraikannya sebelum ia tidur dengannya.

Mohammad menikahi Asma binti al-Nu’man bin al-Aswad bin Sharhil. Namun, ia menderita penyakit kusta, lalu Muhamad memberikan ia uang dan menceraikannya. al-Tabari vol.9 hal.137. Mengapa ia lakukan itu pada orang yang ia cintai?

Asma binti al-Nu’man adalah janda ketika Muhamad menikah lagi. Baik Hafsa atau Aisha menipunya dengan mengatakan padanya bahwa Muhamad akan bahagia jika ia mendapatkan kebahagiaan dalam Allah dari Muhamad.  al-Tabari vol.39 hal.188-190

Cerita singkat tentang ‘Asma binti Nu’man dalam al-Tabari vol.39 hal.190.

Mohammad menceraikan seorang wanita, karena ia menganggap wanita tersebut telah mengambil keslamatan dalam Tuhan dari Muhamad. Ia menceraikan Asma juga karena ia menderita penyakit kusta. Ada beberapa gabungan nama yang mana ada dalam peristiwa ini yaitu dalam al-Tabari vol.39 hal.187.

17. Maria seorang Kristen

Maria adalah istri (selir) sesuai dengan al-Tabari vol.9 hal.141; Sahih Muslim vol.4 catatan kaki 2835. hal.1351; Maria yang seorang Kristen melahirkan anak laki-laki, Ibrahin dari Muhamad dalam  al-Tabari vol.9 hal.39. Ia meninggal ketika berusia dua tahun. Perwakilan Islam Hatib bin Abi Balta’ah kembali dari al-Muqawqis [Mesir] dengan Maria (seorang Kristen), adiknya Sirin, seorang bagal wanita, berpakaian rapih, dan seorang sida-sida. Hatib mengajak mereka untuk menjadi pemeluk agama Islam, dan mereka pun pindah agama (sesuai Tabari). Maria sangat cantik dan Muhamad mengirim Sirin pada Hasan bin Thabit. Sirin dan Hasan adalah orangtua dari Abdul al-Rahman bin Hassan. al-Tabari vol.8 hal.66,131.

Seorang Islam mungkin mengatakan bahwa Muhamad menikahinya karena ia adalah bagai sebuah hadiah dari Mesir, tapi adiknya juga merupakan pemberian, dan ia tidak menikahi Sirin. Maria adalah pemberian dari pemerintah Aleksandria. al-Tabari vol.39 hal.193

Hal ini dinyatakan bahwa Maria menjadi seorang Islam, tetapi Muhamad tetap menjadikannya sebagai budak tidak seperti istri selayaknya. al-Tabari vol.39 hal.194

Mohamad “melakukan hubungan seksual dengannya oleh karena kekuasaannya” al-Tabari vol.39 hal.194. Catatan kaki 845 menjelaskan, “Ini adalah, Maria disuruh memakai kerudung seperti yang dilakukan oleh istri-istri nabi, namun ia tidak menikahinya”.

Maria meninggal tahun 637/638 A.D. al-Tabari vol.39 p.22

18. Rayhana binti Zaid

Rayhana adalah seorang Yahudi budak dari bangsa Quraiz. Muhamad menawarkannya untuk menjadi istrinya sebagai ganti setelah ia menjadi budak, namun ia menolak dan tetap menjadi seorang Yahudi hal ini sesuai dengan al-Tabari vol.8 hal.39. Lihat juga al-Tabari vol.9 hal.137,141. Namun, sumber dalam al-Tabari vol.39 hal.164-165 mengatakan Muhamad membebaskannya lalu menikahinya.

Mohammad mempunyai dua orang selir; Maria binti Sham’un (seorang Kristen) dan Rayhana binti Zaid al-Quraiz dari Banu al-Nadir. al-Tabari vol.9 hal.141. Maria adalah seorang walid dari Muhamad sesuai dengan al-Tabari vol.13 hal.58.

19. Janda Umi Sharik / Ghaziyyah binti Jabir

Umi Sharik  adalah orang yang sama dengan Ghaziyyah binti Jabir dalam al-Tabari vol.9 hal.139. Ia disebut” Umi Sharik” karena adalah seorang ibu dari seorang anak laki-laki bernama Sharik dari pernikahan sebelumnya.

“Ketika Nabi bertemu dengannya, saat itu ia sudah terlihat tua, dan ia pun menceraikannya” al-Tabari vol.9 hal.139. Namun catatan kaki 922 mengatakan Ibn Sa’d dalam Tabaqat, 8 hal.110-112 “memberikan sebuah cerita yang berbeda dan menjadikannya dalam daftar orang-orang yang diinginkan oleh Nabi namun tidak dinikahinya. Itu adalah dia yang memberikan dirinya untuk Muhamad dan dalam ayat Qur’an 33:50 mengacu padanya”.

20. Maimuna

Maimuna adalah seorang wanita yang menawarkan dirinya kepada Muhamad, sesuai dengan Sahih Muslim vol.2 catatan kaki 1919. Orang ini mungkin adalah Maimuna yang sama dengan yang di no.10 atau orang yang berbeda. Yang menikah pada tanggal 7 Hijriah.

Seorang wanita yang tak dikenal mengatakan ia menyerahkan dirinya pada Muhamad sebagai seorang istri. Muhamad tidak mau menerimanya, tapi memberikannya pada orang Islam yang miskin. Yang dapat dilakukan oleh orang miskin itu sebagai hadiah yaitu memberikan sebuah benda kenangan sebuah Sura dari Qur’an. Muwatta’ Malik 28.3.8

21. Zainab ketiga?

Ali Dashti mencatat tentang istri yang ini, namun saya tidak menemukan bukti yang kuat tentang ini.

22.Khawlah binti al-Hudayl

Hal ini mengatakan bahwa Muhamad menikahi Khawlah bint al-Hudayl. al-Tabari vol.9 hal.139. Ia adalah istri Muhamad menurut al-Tabari vol.39 hal.166

23. Janda Mulaykah binti Dawud

Muhamad menikahi (secara tertulis) Mulaykah binti Dawud al-Laythiyyah, tetapi ketika ia mengatakan bahwa Muhamad adalah orang yang membunuh ayahnya, maka meminta perlindungan Allah dari Muhamad, dan Muhamad menjauh darinya. al-Tabari vol.8 hal.189. Hal yang sama juga dikatakan oleh Mulaykah binti Ka’b (yang sepertinya adalah orang yang sama) dalam al-Tabari vol.39 hal.165

Mulaykah binti Ka’b menikah dengan Muhamad dalam waktu yang singkat saja. Karena Aisha mengatakannya kalau ia telah menikah dengan seseorang yang telah membunuh suaminya. Ia pun mencari perlindungan pada Tuhan dari Muhamad, dan Muhamad pun menceraikannya.  al-Tabari vol.39 hal.165

24. Janda al-Shanba’ binti ‘Amr

Mohamad menikahi al-Shanba’ binti ‘Amr al-Ghifariyyah; orang-orangnya adalah dari perkumpulan Banu Quraiz. Ketika Ibrahim meninggal. Wanita itu mengatakan jika ia adalah seorang nabi yang sesungguhnya, maka seharusnya anak laki-lakinya itu tidak akan mati. Muhamad menceraikannya sebelum melakukan hubungan pernikahan dengannya. al-Tabari vol.9 hal.136

25. Janda al-‘Aliyyah

Mohamad tinggal sebentar dengan  Aliyyah binti Zabyan bin ‘Amr bin ‘Awf bin Ka’b, lalu menceraikannya. al-Tabari vol.39 hal.188

Muhamad menikahi al-‘Aliyyah, namun menceraikannya, ia meninggal ketika Muhamad masih hidup. al-Tabari vol.9 hal.138.

26. Janda ‘Amrah binti Yazid

Muhamad menceraikan ‘Amrah binti Yazid karena ia menderita penyakit kusta. al-Tabari vol.39 hal.188

Mohamad menikahi ‘Amrah binti Yazid (tak disebutkan tentang perceraian) al-Tabari vol.9 hal.139.

Mohamad bercerai dengan ‘Amra. Ibn-i-Majah vol.3 no.2054 hal.233 vol.3 no.2030 hal.226 (daif [lemah], bukan Sahih)

Muhamad menceraikan seorang wanita karena wanita itu menderita kusta. al-Tabari vol.39 hal.187

27. Janda yang tak bernama

Mohamad menceraikan seorang wanita yang tak dikenal karena ia mengintip ketika orang-orang meninggalkan mesjid. al-Tabari vol.39 hal.187

28. Qutaylah binti Qays (telah meninggal)

Muhamad menikahi Qutaylah binti Qays tetapi ia meningal sebelum melakukan hubungan pernikahan. Jika ingin tahu juga, dalam buku ini dikatakan bahwa ia dan saudara laki-lakinya telah murtad dari Islam. Maka, ia murtad setelah menikah dan sebelum kematiannya mungkin? al-Tabari vol.9 hal.138-139.

29. Sana binti Sufyan

Menyebutkan pernikahan singkat Muhamad dengan Sana bint Sufyan. al-Tabari vol.39 hal.188

30. Sharaf binti Khalifah

Muhamad menikahi Sharaf bint Khalifah, adik perempuan dari Dihyah bin Lhalifah al-Kalbi, tetapi ia meninggal lebih dulu dibanding Muhamad. al-Tabari vol.9 hal.138

31. Para wanita dari anak buah Muhamad

“…Selain seksualitas, kecuali dengan orang-orang yang ingin mengikut pada mereka dalam ikatan pernikahan, atau (para budak) yang dipelihara oleh anak buahnya – sehingga mereka bebas dari hukuman,” Sura 23:5-6. Lihat juga Sura 4:24

“Ia  (Muhamad) menjawab,’sembunyikan masalah privasimu kecuali dari istri dan dari budak-budak wanita itu.”’ Abu Dawud vol.3 no.4006 hal.1123

Abu Dawud vol.3 no.4443-4445 hal.1244 menunjukkan bahwa melakukan hubungan seksual dengan seorang budak wanita adalah hal yang sah, namun sang tuan akan dipukul jika melakukan hubungan seksual dengan budak wanita istrinya.

Seperti layaknya orang-orang kaya dari Arab, Muhamad sepertinya juga melakukan hal yang sama yang mana juga membutuhkan banyak budak wanita. Lihat Bukhari vol.7 buku 64 bag.6 no.274 hal.210.

Salma adalah salah seorang budak wanita yang dimiliki. Abu Dawud vol.3 no.3849 hal.1084

Maimuna adalah salah seorang budak wanita Muhamad yang dibebaskan. Ibn-i-Majah vol.3 no.2531 hal.514; Abu Dawud vol.1 no.457 hal.118

Muhamad pernah pada waktu yang singkat mempunyai selir “yang sangat cantik” sebelum ia memberikannya pada Mahmiyah bin Jaz’ al-Zubaydi. al-Tabari vol.8 hal.151

Salah satu budak wanita Muhamad yang tinggal dirumahnya melakukan hubungan seksual diluar nikah dengan orang lain. Hal ini “orang lain” tersebut yang merupakan masalahnya. Abu Dawud vol.3 no.4458 hal.1249

Mohamad memanggil seorang budak wanita kulit hitam untuk datang padanya dan bersembunyi dari Abu Dharr dibelakang korden ketika ia sedang mandi. Abu Dawud vol.1 no.332 hal.87

Menyebutkan Umi Ayman (=Barokah), seorang langganan (budak) Nabi. al-Tabari vol.39 hal.287

Mohamad sebenarnya mempunyai rasa humor juga. Umi Aiman, pelanggan Muhamad (seperti: budak yang dapat menemaninya selama semalam). Menurut al-Husayn … Umi Aiman: [Satu] malam Nabi bangun dan pipis disudut tempat bejana. Selama semalam saya bangun itu, dan saya haus, saya meminum sesuatu yang ada di dalam bejana itu, tanpa memerhatikannya. Ketika Nabi bangun di pagi hari ia berkata’ Oh Umi Aima, tolong ambilkan bejana yang ada dipojok itu dan buang isinya.’ Saya berkata ‘Ya Tuhan, saya telah meminumnya.’ Nabi tertawa sampai giginya terlihat, kemudian ia berkata ’setelah ini kamu tidak akan menderita sakit perut itu’” al-Tabari vol.39 hal.199

Secara garis besar, Abu Dawud vol.3 no.4443-4445 hal.1244 mengajarkan bahwa melakukan hubungan seks dengan seorang budak wanita milik tuannya sendiri itu sah-sah saja, tetapi tuannya tersebut akan dipukuli jika melakukan hubungan seks dengan budak wanita milik istrinya.

Tetapi, melakukan hubungan seks dengan seorang budak wanita dari istrinya itu biasa saja, jika budak wanita itu sah untuknya. Perlu dicatat, bahwa ia tidak pernah menikah dengan budak wanita. Ibn-i-Majah vol.4 no.2551 hal.12

Mohamad tidak pernah menikah dengan siapapun!

Aisha merasa cemburu pada setiap wanita yang ingin menawarkan dirinya pada Muhamad (sebagai istri). Sahih Muslim vol.2 no.3453 hal.748. Tetapi itu adalah sah jika ada wanita yang menawarkan dirinya pada Muhamad. Ibn-i-Majah vol.3 no.2000-2001 hal.304-305

Beberapa orang berpikiran bahwa Muhamad menikah dengan al-Ashath, tetapi al-Tabari mengatakan bahwa itu salah menurut al-Tabari vol.39 hal.190i. (Secara keseluruhan, al-Tabari melakukan pekerjaan yang sangat baik dengan mencoba selalu berhubungan dengan para wanita Muhamad)

Gagalnya Rencana Pernikahan

Mohamad meminta Ghaziyyah untuk menikah dengannya karena kecantikkannya, tapi ia menolaknya. Tabari menyatakan ia adalah orang yang tidak setia namun belum ada bukti. al-Tabari vol.9 hal.136. Tidak ada bukti tentang apakah ia tidak setia dan Muhamad tampak tidak peduli dengan tidak menghukumnya, atau setidaknya ketika ia melakukan kesalahan maka Muhamad menghukumnya.

Laila menepuk bahu Muhamad dari belakang dan memintanya untuk menikahinya. Muhamad menerima. Orangnya Laila mengatakan,”Apa yang telah anda lakukan! Anda adalah wanita terhormat, tapi ia adalah lelaki hidung belang. Menjauhlah darinya.’ Ia menemui Muhamad lagi dan memintanya untuk menggagalkan pernikahan itu dan ia menurutinya” al-Tabari vol.9 hal.139

Dari al-Tabari vol.9 hal.140-141, Mohamad merencanakan pernikahan itu, namun berakhir dengan tidak adanya pernikahan:

1) Umi Hani’ binti Abi Talib [Hind] karena ia mengatakan ia sudah mempunyai anak.

2) Duba’ah binti ‘Amir tetapi ia terlalu tua.

3) Dilaporkan ia berencana menikah dengan Saffiyah binti Bashshamah, seorang budak. Ia diijinkan untuk memilih antara Muhamad dan suaminya, dan ia memilih suaminya.

4) Umi Habiba binti al-‘Abbas tetapi karena al-‘Abbas adalah saudara laki-laki angkatnya, maka Muhamad membatalkannya.

5) Jamrah binti Al-Harith. Ayahnya salah menduga jikalau ia sedang menderita sesuatu. Ketika ia datang, ia melihat keadaannya bahwa ia telah menderita penyakit kusta.

Hal ini tidak konsisten dimana UmiHani’ menjadi seorang Islam sebelum atau setelah Muhamad memintanya menikahi dengannya. al-Tabari vol.39 hal.197 dan catatan kaki 857 hal.197

Categories: Indonesia Version
Tagged: , , , ,

Aisha: Istri Muhamad yang Berumur Sembilan Tahun

July 17, 2008 · Leave a Comment

Banyak orang mengatakan bahwa Muhamad telah melakukan hubungan seks dengan istrinya yang termuda ’Aisha, anak dari Abu Bakr (Abu Bakar), yang saat itu ia berumur 53 tahun dan Aisha masih berumur sembilan tahun. Beberapa orang Islam menyagkal hal itu. Karena jika orang-orang menyatakan Muhamad dan Aisha telah mekaukan hubungan seks ketika Aisha berumur sembilan tahun, dan ternyata mereka itu salah, hal itu akan menjadi sebuah fitnah yang serius untuk melawan Muhamad. Dilain pihak, jika hal itu adalah benar adanya, maka hal ini akan menunjukan Muhamad dari sisi yang sangat jauh berbeda yang akan mengejutkan banyak orang. Jadi, apakah tuduhan yang melawan Muhamad ini benar atau salah?

Paper ini pertama-tama akan memberikan bukti tentang Aisha yang berumur sembilan tahun ketika pernikahannya dilaksanakan, lalu disini terdapat 11 keberatan terhadap hal ini, dan yang pada akhirnya, tanyakanlah jika memang setiap hal yang dilihat adalah benar.

Ini sangat penting untuk dijalankan secara luas namun sekarang sudah hampir dilupakan: pengantin wanita(yang masih anak-anak) di tanah Islam sesuai dengan apa yang dicontohkan oleh Muhamad.

Di Iran pada Juni 2002 dimana hal yang sah pada anak perempuan umur 9 tahun menikah asalkan dengan ijin dari orang tuanya. Voices Behind the Veil hal.136-137

Di Pantai Gading buku ini juga mengatakan bahwa ada gadis berumur 12 tahun akan meninggalkan rumah selama beberapa jam sebelum kembali rumah. Setelah ayahnya “berhubungan” dengan anak gadisnya, membakar punggungnya dengan sebilah besi panas, menguncinya selama tiga hari tanpa makanan, maka ayahnya akhirnya mengawinkan anak gadisnya itu kepada seorang lelaki berumur 40 tahun. Ia tidak pernah mengirimkan anaknya untuk bersekolah karena ia takut jika dari sekolah dapat membuat anaknya tidak patuh terhadap tradisi, mereka akan bertanya beberapa pertanyaan, dan akhirnya tidak ingin menikah  sampai mereka berumur 19 atau 20 tahun.

Taliban menganjurkan keluarga-keluarga untuk mengawinkan anak-anak perempuan mereka sedini mungkin sekitar delapan tahunan. (Voices Behind the Veil hal.110)

Harian Dallas Morning News pada 28/9/2003 hal.1,10S bercerita tentang kesedihan gadis Muslim di Nigeria yang dinikahkan saat masih sangat muda, hamil dan harus bekerja sebelum tubuh kecilnya siap. Ini sebenernya cerita yang sangat mencolok, terutama pada para gadis yang membutuhkan golongan C tapi todak mendapatkannya. Beberapa orang berhasil, namun tidak dapat mempunyai anak oleh karena uterusnya yang berlubang.

Untuk mengerti contoh nyata yang bersifat perintah oleh Muhamad, kita harus mengeri suatu hadist orang Islam. Mereka memegang posisi lebih tinggi dalam Islam Sunni daripada yang tradisi gereja lakukandi gereja Katholik dan Ortodoks. Islam Sunni memegang enam kumpulan Hadist sebagai tulisan yang paling berwenang dalam Islam setelah Al Qur’an. Pada sisaan dari paper ini menunjukkan bahwa tuduhan yang dituduhkan itu adalah sangat benar, sesuai dengan banyak penguatan dari sumber Islam terdahulu. Dalam tambahannya, pada kutipan-kutipan ini dari enam perintah Hadist adalah referensi dari Sejarawan Islam terdahulu yang sangat dihormati Ibn Ishaq dan al-Tabari.

1. Sahih al-Bukhari 810-870 A.D. 256 A.H.

1a. “Diceritakan ayah Hisham: Khodijah meninggal tiga tahun sebelum Nabi bernagkat ke Medina. Dia berada disana selama dua tahun dan ia menikahi ‘Aisha ketika ia masih berumur enam tahun, dan ia menjalankan pernikahannya dengan ’Aisha ketika ia masih berumur sembilan tahun” Bukhari vol.5 buku 58 no.236 hal.153.

1b. Hal yang sama juga dituliskan dalam Bukhari vol.5 buku 58 no.234 hal.152.

1c.“Diceritakan ’Urwa: Nabi membuat pernyataan (nikah kontrak) dengan ’Aisha ketika ia maish berumur enam tahun dan menjalankan perkawinan dengan Aisha ketika ia masih berumur sembilan tahun dan ia bersama dengan Muhamad selama sembilan tahun (sampai Muhamad meninggal). Bukhari vol.7 buku 62 no.88 hal.65

1d. Diceritakan oleh Aisha: Nabi sedang menutupi saya dengan Rida’nya (kain penutup yang menutup tubuh bagian atas) ketika saya sedang melihat orang Etiopia yang sedang bermain di halaman masjid. (Saya lanjut melihat) sampai saya puas. Maka anda dapat melihat dari hal ini bagaimana seorang gadis kecil (yang belum sampai pada tahap pubertas) yang mana mempunyai hasrat untuk menikmati suatu penghiburan harus dibayar dalam kehormatan ini. Bukhari vo.7 buku 62 no.163

1e.“Dikisahkan ’Aisha: (istri Nabi) Saya tidak pernah ingat orangtua saya percaya pada agama lain selain agama yang lebih benar ini (Islam), dan (saya tidak ingat) suatu hari berlalu tanpa mengunjungi kami oleh Rasul Allah pada pagi dan sore hari.“ Bukhari vol.5 buku 58 no.245 hal.158. Demikian ’Aisha tidak terlalu tua atau belum lahir ketika orangtuanya menjadi Muslim. Hal ini bersesuaian dengan anaknya ketika pernikahannya dengan Muhamad dilaksanakan.

2. Sahih Muslim 817-875 A.D. 261 A.H.

Ini adalah kumpulan Hadist yang kedua paling dipercaya.

2a. “(3309) ‘Aisha (yang berarti Allah disenangkan olehnya) bercerita: Utusan Allah (semoga damai menyertainya) menikahi saya ketika saya berusia enam tahun, dan saya dibawa ke rumahnya sat berumur sembilan tahun. Dia lanjut berbicara: Kami pergi ke Medina dan saya terkena demam selama satu bulan, dan rambut saya turun sampai ke telinga. Umi Ruman (ibu saya) datang pada saya yang pada saat itu saya sedang berputar-putar dengan teman main saya. Ibu berteriak memanggil saya dan tentunya saya mendatangi ibu namun pada saat itu saya tidak tahu apa yang ibu inginkan dari saya. Ibu juga memegang tangan saya dan membawa saya ke sebuah pintu, lalu saya katakana: Ha, ha (seperti sedang terengah-engah), sampai debaran di dada saya berhenti. Lalu dia membawa saya ke dalam rumah, dimana telah berkumpul para wanita Ansar. Mereka semua mendoakan saya dan berharap semoga saya beruntung dan berkata: Semoga kamu dilimpahkan akan kebaikan. Ibu mempercayakan saya pada mereka. Lalu mereka mencuci kepala saya dan mereka mendandani saya dan tidak ada yang menakuti saya. Akhirnya, Utusan Allah (semoga damai menyertainya) datang pada pagi hari, dan saya dipercayakan (diserahkan) pada dia.” Sahih Muslim vol.2 buku 8 bab.548 no. 3309 hal.715-716

2b. “(3310)’Aisha (Allah disenangkan olehnya) bercerita: Rasullullah(semoga damai menyertainya) menikahi saya ketika saya berusia enam tahun, dan saya dibawa kerumahnya ketika saya berusia sembilan tahun” (3311)’Aisha (Allah disenagkan olehnya) bercerita bahwa Rasullulah (semoga damai menyertainya) menikahinya disini ketika saya berusia tujuh tahun, dan ia dibawa kerumahnya sebagai seorang pengantin wanita pada usia sembilan tahun, dan bonekanya pun ikut  bersama dengan Aisha: dan ketika dia (Nabi Suci) meninggal Aisha berumur 18 tahun.” Sahih Muslim vol.2 buku 8 bab.548 no.3310,3311 hal. 716

2c. “(5981)’Aisha bercerita bahwa dia sedang main dengan boneka-bonekanya saat Utusan Allah (semoga damai menyertainya) hadir dan ketika teman-teman mainnya datang kerumahnya, namun mereka lalu meniggalkan rumahnya itu karena malu dengan Utusan Allah (semoga damai menyertainya) padahal Utusan Allah sendiri (semoga damai menyertainya) yang mengirim mereka ke rumahnya (Aisha)

2d. “(5982) Hadist ini telah diceritakan dibawah wewenag Hisham melalui rangkaian pengiriman yang  sama dengan susunan kata yang berveriasi dan mudah dipahami” Sahih Muslim vol.4 buku 29 bab.1005 no.5891-5892)

3. Sunan Abu Dawud 817-888/9 A.D. 275 A.H.

3a.”(2116)’Aisha berkata: Rasullullah (semoga damai menyertainya) menikahi saya ketika saya berusia tujuh tahun. Sulaiman berkata: Atau enam tahun. Dia menyetubuhi saya ketika saya berusia sembilan tahun.” Abu Dawud vol.2 no.2116 hal.569

3b. “(4913) ‘Aisha berkata: Saya biasanya bermain dengan boneka-boneka saya. Terkadang Rasullulah (semoga damai mneyertainya) mendatangi saya ketika saya sedang bersama dengan teman-teman saya. Ketika dia masuk, mereka keluar, dan ketika dia keluar, mereka masuk.“ Sunan Abu Dawud vol.3:4913 hal 1373

3c.“(4915)’Aisha berkata: Rasullullah (semoga damai menyertainya) menikahi saya ketika saya berumur tujuh atau enam tahun. Ketika kami datang ke Medina, beberapa wanita datang. Menurut versi Bishr’: Umi Ruman mendatangi saya ketika saya sedang main putar-putaran. Mereka membawa saya, mempersiapkan dan menghiasi saya. Lalu saya dibawa kepada Rsullullah (semoga damai menyertainya), dan dia hidup bersama dengan saya sebagai suami-istri pada saat saya berusia sembilan tahun. Ia menghentikan saya dan sayapun tertawa terbahak-bahak.

Abu Dawud berkata: ini yang dikatakan: saya mengalami menstruasi dan dan saya dibawa ke rumahnya, dan disana ada beberapa wanita Ansari(Pembantu) dalamnya. Mereka berkata: Dengan keberuntungan dan rahmat. Tradisi dari salah satu diantara mereka telah dimasukkan pada yang lain.

3d. (4916) Tradisi yang disebutkan diatas juga dikirim oleh Abu Usamah dalam cara yang sama melalui rangkaian narasi yang berbeda. Versi ini mempunyai: ‘dengan keberuntungan yang baik.’ Dia (Umi Ruman) mempercayakan saya pada mereka. Mereka mencuci kepala saya dan memakaikan baju pada saya. Tak seorang pun mendatangi saya kecuali Rasullullah (semoga damai menyertainya) sebelum tengah hari. Maka mereka menyerahkan saya padanya.

3e. (4917) ‘Aisha berkata: Ketika kami datang ke Medina, seorang wanita datang pada saya ketika saya sedang bermain putar-putaran, dan rambut saya tergerai sampai ketelinga. Mereka membawa saya, mempersiapkan saya, dan mendandani saya. Lalu mereka membawa saya pada Rasullullah (semoga damai menyertainya) dan kita hidup bersama sebagai suami-istri ketika saya berumur sembilan tahun.

3f. (4918) tradisi yang disebutkan di atas juga disebarkan oleh Hisham b. ‘Urwah melalui rangkaian cerita yang berbeda. Versi ini menambahkan: Saya sedang berputar-putar dan dengan teman-teman saya. Mereka membawa saya ke sebuah rumah; disana ada beberapa wanita Ansar (Pembantu). Mereka mengatakan: Dengan keberuntungan dan rahmatNya.

3g. (4919)’Aisha berkata: Kami datang ke Medina dan tinggal dengan Banu al-Harith b. Al-Khazraj. Ia berkata: Saya bersumpah pada Allah, saya sedang berputar-putar diantara dua batang pohon palem. Lalu ibu saya datang, dan membuat saya terjatuh ke bawah; dan rambut saya tergerai sampai ke telinga. Penyebar cerita ini lalu juga menyebutkan tradisi yang tersisa.“ Sunan Abu Dawud vol.3:4915-4919 hal.1374.

Kesimpulan dari Abu Dawud: 7 referensi dan tak satupun referensi yang mengiakan bahwa Aisha berumur sembilan tahun.

4. Tirmidhi 825-892 A.D. 209-279 A.H.

Saya tidak dapat berkomentar tentang umur dari Aisha dalam Tirmidhi karena saya tidak mempunyai akses untuk ke Tirmidhi’s Jami. Tirmidhi’s Shamaa-il tidak berhubungan dengan hal ini.

5. Sunan Nas’ai 830-915 A.D. 215-303 A.H.

5a. Ketika Hadrat’Aisha melewati kehidupan pernikahan selama sembilan tahun, Nabi Suci Muhamad (damai dan rahmat Allah menyertainya) mengalami sakit yang parah atau mematikan. Pada tanggal 9 atau 12 Rabi-ul Awwal 11 A.H., dia meninggalkan dunia ini…Hadrat’Aisha saat itu masih berusia delapan belas tahun ketika Nabi Suci Muhamad (damai dan rahmat Allah menyertainya) meninggal dunia dan ia menjadi seorang janda selama empat puluh delapan tahun sampai ia meninggal diumurnya yang keenam puluh tujuh.” Sunan Nasa’I 1no. 18 hal 108

diketahui bahwa Aisha melewati sembilan tahunpernikahanbersama Muhamad, dan sejak Muhamad meninggal saat usianya delapan belas tahun, dia baru berusia sembilan tahun saat ia memulai kehidupan pernikahannya dengan Muhamad.

Kesimpulan dari Sunan Nas’ai: satu referensi dan tak satupun referensi yang mengatakan Aisha berusia sembilan tahun.

6. Ibn-i-Majah 824-886/887 A.D. 273 A.H.

6a. Aisha menikah saat berusia enam tahun, dan dibawa ke rumah Muhamad saat berumur sembilan tahun. Ibn-i-Majah vol.3:1876 hal.133

6b. Aisha menikah saat berusia tujuh tahun, dan tinggal dirumah Muhamad ketika berusia sembilan tahun, dan saat umur 18 tahun ketika Muhamad meninggal. Menurut al-Zawa’id, isnadnya adalah sah sesuai dengan kondisi dari Bukhari . Bagaimanapun Abu’Ubaida tidak mendengarnya dari ayahnya, jadi hal ini merupakan munqata (ada gap) Ibn-i-Majah vol.3:1877 hal.134

7. Sejarah tentang ibn Ishaq – meninggal 767/773 A.D. 145/151 A.H.

7a. “Yahya b. Abbad b.Abdullah b. al-Zubyayr dari ayahnya mengatakan pada saya bahwa ia mendengar perkataan Aisha: “Rasul meninggal didada saya selama masa peralihan saya. Saya merasa bersalah tidak menghormatinya. Hal itu karena kebodohan saya dan hal yang ekstrim yang saya lakukan di masa muda ketika Rasul meninggal dalam tangan saya.””

(Guillaume, A., The Life of Muhammad, sebuah terjemahan dari Ibn Ishaq’s Sirat Rasul Allah, Oxford University Press, Karachi, Pakistan, hal. 682). Aisha mengatakan dia adalah seorang remaja yang ekstrim ketika Muhamad meninggal.

8. Sejarah tentang al-Tabari – meninggal 923 A.D.

8a. ‘Aisha berumur 6 (7 tahun) ketika ia menikah, dan pernikahannya dilaksanakan ketika ia berumur sembilan tahun. al-Tabari vol.9 hal.129-131 Muhammad b. ‘Amr adalah salah satu penyebar.

8b. ‘Aisha  berumur 6-7 tahun ketika menikah, dan pernikahan dilaksanakan saat berusia 9-10 tahun, tiga bulan setelah tiba di Mekah.  al-Tabari vol.7 hal.7. Rangkaian penyebaran meliputi seorang yang tak dikenal dari kaum Quraish.

8c. Aisha meninggal pada bulan Juni- Juli tahun 678 A.D (A.H.58) saat berumur 66 tahun. Hla itu yang menjelaskan bahwa ia lahir tahun 610 A.D. Dikatakan ia melaksanakan pernikahannya dengan nabi ketika ia berusia sembilan tahun. al-Tabari vol.39 hal.171,173. (al-Tabari menulis 38 volume sejarah, ditambah sebuah volume yang ke-39 yang disebut Biographies of the Prophet’s Companions and Their Successors.)

X 8c. Dilain hal, al-Tabari juga menulis misal contohnya “ Keempat anaknya (Abu Bakr) dilahirkan dari dua istrinya – yang namanya telah disebutkan sebelumnya – selama masa pre-Islam” (Tarikhu’l-umam wa’l-mamlu’k, Al-Tabari, vol.4, hal.50, Arab, Dara’l-fikr, Beirut, 1979. al-Tabari vol.11 hal.141 juga menyebutkan hal ini, dengan catatan kaki (footnote) 766 katakan al-Tabari telah mempunyai konflik. Catatan kai tersebut mengatakan bahwa al-Baladhuri’s Ansab I, hal.409-411; Ibn Hajar’s Isabah IV, hal.359-360 mendukungnya untuk menikah pada umurnya yang masih sembilan tahun.

PENJELASAN MAYORITAS MUSLIM

Ada dua kategori dasar dalam menjawab apa yang dimiliki Muslim pada: sebagian besar setuju bahwa hadist yang disini reliable, dan sebgian kecil tidak menyetujui.

Pandangan mayoritas menyetujui realibilitas dari hadist ini. Seperti yang dikatakan oleh seorang Muslim pada saya”…berani bertaruh Aisha adalah gadis berumur sembilan tahun yang paling bahagia di dunia ini“.

Situs berikut ini juga mengatakan dan menuduh bahwa Muslim liberal yang memenuhi moral dunia barat dan menyangkal kebenaran. http://admin.muslimsonline.com/~islamawe/Polemics/aishah.html

Catatan kaki pada tahun 1958 dalam halaman 715 mengatakan:“Menurut Imam Shafi’i, pernikahan pada masa kanak-kanak merupakan sesuatu yang tidak dapat dihargai. Hal ini merupakan keadaan pengecualian bahwa Hadrat’Aisha menikah dengan Nabi (semoga damai menyertainya). Poin kedua yang dicatat yaitu bahwa Islam menyatakan tidak ada batasan umur untuk pubertas pada setiap negara dan ras melainkan dikarenakan iklim, keturunan, fisik, dan kondisi sosial. Mereka yang hidup di daerah dingin mencapai pubertas lebih lambat dibanding dengan mereka yang tinggal didaerah panas dimana baik laki-laki dan perempuan mencapainya diusia yang cukup dini.

“Temperatur rata-rata disuatu negara atau provinsi.’ kata penulis terkenal dari bukunya yang bernama Woman,”diperhatikan factor utamanya disini, tidak hanya berpaku menstruasi tetapi berpaku pada perkembangan seksual saat pubertas…Sama juga, penulis Kinsey Report menyatakan:“ Insiden perilaku seks masa pra-remaja pada usia yang umum (insiden aktif) terlihat paling tinggi pada kelompok masa usia muda. Delapan persen wanita dari sampel yang diteliti melaporkan melakukan permainan heteroseksual pra-remaja pada usia lima dan tujuh tahun“ (Alfred C. Kinsey dkk, Sexual Behaviour in the Human Female, hal.110)” –Semua ini dikatakan oleh Sahih Muslim vol.2 catatan kaki 1958 hal.715.

Penterjemah dari Sahih Muslim vol.2 memberikan penjelasan dalam catatan kaki 1960 hal.716.“Nabi Suci (semoga damai menyertainya) menikah dengan Aisha telah dikritik oleh pengkritik barat. Hal ini, bagaimanapun, aneh bahwa kritik jaman sekarang tentang Muhamad (semoga damai menyertainya) yang diratakan semua hal yang melawannya tidak ada yang meyebutkan, tidak sediktiknya, pada perihal pernikahan ini. Hal ini seharusnya dihasilkan dalam pemikiran bahwa, seperti semua yang dilakukan oleh Nabi Suci (semoga damai menyertainya), bahkan pernikahan ini mempunyai tujuan yang mulia dibelakangnya. Hadrat’Aisha adalah gadis yang dewasa sebelum waktunya dan berkembang pada pikiran dan tubuh yang terlalu cepat dan aneh pada kepribadian yang jarang dan aneh. Dia dibawa ke rumah Nabi Suci (semoga damai menyertainya) yaitu pada saat awal pubertasnya, masa dimana ia dalam masa pertumbuhannya dan mudah dipengaruhi…. Bahkan dari sudut psikoseksual hal ini merupakan perpaduan yang membahagiakan secara hal ini seuatu yang jelas dari rekor dalam hadist. Ketika perbedaan (dalam umur),’kata Von De Velde, Direktur Klinik Ginelogi di Harlem (New York?), adalah hal yang hebat, contohnya lebih dari lima belas atau dua puluh tahun, hasilnya mungkin lebih membahagiakan. Pernikahan orang-orang tua-bukan, tentunya seorang lelaki tua atau uzur dengan gadis yang masih muda, seringkali sukses dan harmonis, pengantin perempuan segera mungkin diperkenalkan dan dibiasakan dengan hubungan seksual yang layak.“ (Ideal Marriage, Its Psychology and Technique, London, 1962 hal 243)“ Sahih Muslim vol.2 hal.716.

Garis Waktu pada Muhamad dan Aisha

Kejadian (+/- 2 tahun)

A.D.

A.H.

Muhamad lahir

570

-53

Migrasi ke Etiopia

617

-5

A’isha menikah pada usia 6-7 tahun

622

0

Migrasi ke Medina

623

1

Pernikahan dilaksanakan pada usia 8-9 tahun

623

1

Perang antara  Badr dan Uhud

625

3

Muhamad meninggal pada usia 63 tahun dan Aisha berumur 19 tahun

633

11

Aisha memberontak melawan Ali

656

35

Catatan bahwa interpretasi dan penjelasan cendekiawan hadist yang resmi, dalam mencoba untuk menjelaskan rasional usianya yang muda ketika pernikahan dilaksanakan, menegaskan anak muda

Catatan kaki 2728 di halaman yang sama mengatakan :”Pernikahan Nabi (semoga damai menyertainya) dengan Aisha pada usia dimana dia baru memasuki awal pubertas adalah hal yang hebat, seiring hal ini melaluinya bahwa petunjuk dapat ditanamkan dengan sukses pada gadis muda yang telah baru masuk bagian dalam Islam. Apalagi, pernikahan ini menyerang pada akar dari dugaan yang salah ini dimana telah dengan kuat memegang kendali pemikiran orang-orang bahwa hal tersebut bertentangan dengan etika agama untuk menikahi anak perempuan yang menyatakan untuk menjadi saudara laki-lakinya.” [ Abu Bakr dan Muhamad adalah saudara seagama, tetapi bukan saudara biologi]

Sebelas Keberatan

Pandangan minoritas menyangkal bahwa Muhamad telah berhubungan seks dengan gadis berusia sembilan tahun, biasanya dikatakan bahwa Aisha berumur 17 sampai 19 tahun. Disini alas an-alasan yang diberikan, dan beberapa respon atau tanggapan.


Keberatan 1: Ragu pada Tiga orang Penyebar

1.1 Seorang tak bernama dari Quraish adalah seorang penyebar dalam al-Tabari vol 7 hal.7, yang mana referensi yang lemah.

1.2 Hisham ibn’Urwah adalah seorang penyebar dalam banyak kutipan. Jika ia membuat kesalahan, lalu semua orang yang secara teliti mengutipnya maka akan mendapat informasi yang salah juga. Mizanu’l-ai’tidal, sebuah buku narasi tradisi Nabi menceritakan bahwa ketika ia tua, Hisham menderita gangguan ingatan yang buruk. (v.4, hal.301-302)

Tehzibu’l-tehzib, salah satu buku yang terkenal dalam hidup dan realibilitas narasi dari tradisi Nabi menceritakan bahwa menurut Yaqub ibn Shaibah:”narasi yang diceritakan oleh Hisham adalah sah kecuali hal-hal yang diceritakan melalui orang-orang Iraq”. Hal ini lanjut didikatakan bahwa Malik ibn Anas keberatan pada narasi Hisham yang mana diceritakan melalui orang Iraq. (vol.11, hal.48-51)

1.3 Muhamad ibn Amr disebut lemah oleh Ibn Abu Hatim dalam Al-Jarah wa al-Ta’deel: Yahya mengatakan, “dia bukan termasuk orang yang kamu inginkan (dalam laporannya).” Abu Hatim menanyai Malik yang mengatakan sama, dan Yahya bin Mu’een mengatakan “ Orang-orang menahan supaya tidak menerima jalan ceritanya“

Al-Dhahabiy dalam “Siyar Aa’laam al Nubalaa”, berkata bahwa Juzyanniy mnegatakan bahwa Muhamad ibn Amr tidak kuat dalam kesahihan laporannya. Al-Dhabahiy juga berkata Yahya ibn Qataan mengatahan Muhamad ibn Amr tidak hati-hati dalam menceritakan jalan ceritanya.

‘Uquaily juga mengatakan Muhamad ibn Amr lemah dalam narasinya dalam al-Du’afaa al-‘uqualy, vol.4 hal.109.

Tanggapan untuk no.1: Walaupun mengasumsikan Hsiham, ibn Amr, dan orang tak bernama adalah penyebar yang kurang baik, namun lemah bukan berarti mereka salah. Juga, bagaimana dengan mereka yang tidak lemah atau tidak lebih baik? Disinilah kartu catatannya.

Kartu Catatan Referensi

Narrator

Ref’ kuat

Ref’ lemah

Ref’ pembanding

Al-Bukhari

4

1

-

Sahih Muslim

3

1

-

Abu Dawud

6

1

-

Tirmidhi

-

-

-

Nasa’i

-

1

-

Ibn-i-Majah

1

1

-

Ibn Ishaq

1

-

-

al-Tabari

0

3

1

TOTAL

15

8

1

7 referensi yang lemah tidak dapat mengalahkan referensi yang kuat, walau mereka menambah kredibilitas mereka.


Keberatan 2: Tak  ada seorang pun pencerita dari Medina

Hisham ibn ‘Urwah tinggal di Medina selama 70 tahun lalu pindah ke Irak. Mengapa tak satu orang Medina pun menceritakan bahwa Aisha berumur delapan atau sembilan tahun? Juga pencerita lain semuanya dari Irak.

Tanggapan untuk no.2: Ini adalah argumentasi dari kesunyian; banyak orang tidak menceritakan apapun tentang umur Aisha saat hubungan pernikahan itu dilaksanakan. Juga, Irak menjadi sumber yang bagus, karena baik Aisha dan teman-temannya pindah ke Irak saat masanya ‘Uthman. Tentunya, kita dapat berasumsi Aisha ingat kapan ia menikah, dan mengatakannya kepada`yang lain.


Keberatan 3: Apakah Arab mempunyai tradisi sebuah pernikahan pada anak kecil?

Tidak ada referensi tentang pernikahan pada anak kecil dalam sejarah orang Arab, maka jika Muhamad melakukannya, hal ini akan menjadi kejadian yang tidak biasa yang akan diceritakan oleh orang banyak. Mungkin tak ada seorangpun yang akan keberatan dengan hal ini jika memang hal ini pernah terjadi sebelumnya.

Tanggapan untuk no.3: Ketika hal ini diceritakan oleh banyak orang, ada sedikitnya satu fakta yang mengatakan tentang pernikahan (dan hubungan pernikahannya) pada anak kecil pada masanya Muhamad. Seorang nyonya menjadi seorang nenek pada usia 21 tahun, menurut Bukhari vol.3 buku 48 no.831 hal.514. Akhirnya sejak tak seorangpun keberatan untuk menceritakan tentang pernikahan ini, bahkan mayoritas Muslim yang mengendalikan hal ini terjadi.


Keberatan no.4: Gadis muda saat Sura 54:46 ditulis

Aisha mengatakan dia adalah seorang gadis muda ketika Sura 54:46 [al-Qamar pada pemisahan bulan] ditulis, yang mana sekitar 9 tahun sebelum Hejira. Dia tidak mengatakan bayi [sibyah], tetapi gadis muda [jariya]. (diambil dari http://www.understanding-islam.com/ri/mi-004.htm)

Hal ini sesuai dengan Bukhari, kitabu’l-tafsir, Arabic, Bab Qaulihi Bal al-sa`atu Maw`iduhum wa’l-sa`atu adha’ wa amarr.

Tanggapan untuk no.4: Ada tiga bagian jawaban.

1a (penggunaan kata): Argumentasi ini bergantung apa yang dikatakan orang, tidak mudah untuk menggunakan kata  jariya sebagai kata yang umum untuk gadis yang belum remaja. Sebelumnya banyak cerita yang mengatakan Aisha masih bermain dengan boneka-bonekanya ketika ia dinikahi oleh Muhamad.

1b (kesalahan Sura): Hal ini lebih mudah untuk beberapa narator untuk melupakan Sura yang benar daripada para narator yang hebat untuk melupakan bahwa ia adalah seorang istri cilik.

1c (kesalahan waktu pada Sura): Ini mungkin Sura yang benar, tapi kita tidak tahu secara yakin kapan Sura 54:46 ditulis. Baik Ibn Hajar dalam Fath al-Baariy dan Maudid mengatakan bahwa hal ini terjadi sekitar 5 tahun sebelum Hejira, bukan 9 tahun sebelum Hejira.


Keberatan no.5: Aisha pada zaman Badr dan Uhud

Beberapa cerita mengatakan bahwa Aisha menemani para tentara saat perang melawan Badr dan ‘Uhud (keduanya dalam 3 A.H.). Hadist juga menunjukan bahwa laki-laki dibawah usia 15 tahun dibolehkan untuk ikut ambil bagian dalam perang melawan ‘Uhud. Al-Tabari vol.12 hal.75 mengatakan seorang laki-laki ikut berpartisipasi dalam perang al-Qadisiyyah hanya setelah mencapai tahap pubertas. Cerita yang menyebutkan Aisha ada dalam perang ‘Uhud adalah:  Bukhari, Kitabu’l-jihad wa’l-siyar, bahasa Arab, Bab Ghazwi’l-nisa’ wa   qitalihinna ma`a’lrijal. Referensi yang mengatakan anak laki-laki dibawah 15 tahun tidak dapat ikut perang  adalah: Bukhari vol.3 buku 48 no.832 hal.514, Kitabu’l-maghazi, Bab ghazwati’l-khandaq wa hiya’l-ahza’b.

Tanggapan untuk no.5: Aisha menjadi seorang gadis, yang tidak pernah berkelahi dalam perang. Umur 15 tahun “ adalah batas antara anak-anak dan dewasa”.Maka apa yang dilakukan seorang gadis kecil disana?

Usia 10/11 tahun, disamping menjaga tentara Muhamad saat malam, ada hal-hal lain yang dilakukan. Wanita dan anak gadis pergi ke medan perang setelah perang dan memberikan air pada orang Muslim yang luka parah dan mengobati luka musuh-musuhnya. al-Tabari vol.12 hal.127,146. Hari-hari selama perang, para wanita dan anak-anak berada disana untuk menggali kuburan untuk orang-orang yang mati. al-Tabari vol.12 hal.107

Akhirnya, Aisha muda dianggapm sebagai seorang dewasa, pada orang Islam seorang gadis kecil dikatakan dewasa ketika ia memulai periode bulanannya sesuai dengan Bukhari vol.3 buku 48 bab.18 hal.513.


Keberatan no.6: Kakak Aisha yang sepuluh tahun lebih tua, ‘Asma meninggal tahun 73 A.D. ketika ia berumur 100 tahun.

Taqri’bu’l-tehzi’b and Al-bidayah wa’l-nihayah mengatakan bahwa ‘Asma meninggal pada tahun 73 A.H. ketika ia berusia 100 tahun. Sejak Asma berumur 26/27 pada tahun 1 A.H., maka Aisha berumur 16/17 tahun pada tahun yang sama, bukan 8-9 tahun. (Referensi tentang usia Asma pada saat kematiannya adalah: ibn Hajar al-Asqalani dalam Taqri’bu’l-tehzi’b hal.654 dan ibn Kathir dalam Al-bidayah wa’l-nihayah vol.8 hal.372 bahasa Arab. Referensi tentang Asma lebih tua sepuluh tahun yaitu : Abda’l-Rahman ibn abi zanna’d, Siyar A`la’ma’l-nubala’, Al-Zahabi, vol.2, hal.289, bahasa Arab, Mu’assasatu’l-risalah, Beirut, 1992, ibn Kathir dalam Al-Bidayah wa’l-nihayah, Ibn Kathir, Vol 8, hal. 371, bahasa Arab, Dar al-fikr al-`arabi, Al-jizah, 1933)

Tanggapan untuk no.6: Mengasumsikan buku-buku ini adalah sahih pada kasus ini, orang-orang dapat saja menceritakan usia seseorang dengan salah setelah mereka mati.

Contohnya, jika anda percaya pada ibn Hajar pada halaman-halaman sebelumnya pada hal Asma meninggal, anda akan percaya pada tulisan ibn Hajar Isabah IV, hal.359-360 ketika ia menunjukan Aisha telah menikah pada saat umur 9 tahun. (catatan kaki dalam al-Tabari vol.11 hal.141 catatan kaki 766)

Bagaimana dengan bonekanya? Bertentangan dengan Keberatan no.6, seorang penulis menceritakan bahwa banyak sumber orang Muslim menunjukan bahwa Aisha masih bermain dengan bonekanya ketika menikah. Bukhari (no.5665), Sahih Muslim (no.4470), Abu Dawud (no.4283), Ibn-i-Majah (no.1972) and Ahmad Ibn Hanbal (no.23163, 24169, 24770 dan 24777).


Keberatan no.7: al-Tabari mengatakan Abu Bakr mempunyai empat anak pada waktu pra-Islam.

Sejak Aisha adalah salah satu dari anak-anaknya, ia seharusnya berusia 13 atau 14 tahun ketika hubungan pernikahan dilakukan.

Tanggapan untuk no.7: al-Tabari vol.11 hal.141 catatan kaki 766 mengatakan bahwa al-Tabari sangat bertentangan disini. Dia juga mengatakan Aisha berumur 8-9 tahun ketika hubungan pernikahan dilakukan. Tabari menceritakan hal-hal sejumlah hal-hal yang besar, dan dia atau sumbernya salah pada sesuatu hal. Bagaimanapun, seseorang akan mengingat sesuatu yang penting dibanding sesuatu yang tidak penting. Al-Tabari mempunyai tiga tempat dimana Aisha berumur 8-10 tahun ketika hubungan pernikahan dilakukan, dan  hanya satu tempat saja yang menjadikannya lebih tua dari umur itu.


Keberatan no.8: Aisha menerima Islam sebelum ‘Umar bin Khattab menurut Ibn Hisham dalam Sirah al-Nabawiyyah vol.1 hal.227-24 (bahasa Arab). Dia berusia 20/21tahun ketika ‘Umar berusia 41 tahun (ibid vol.1 hal.295). oleh karena itu soerang Muslim menyatakan hal ini membuktikan Aisha telah menerima Islam selama tahun pertamanya (c.610 A.D.)

Tanggapan untuk no.8: Ada tiga bagian jawaban.

  1. Tak ada satu orangpun tahu tentang urutannya, Umumnya ada ketidak setujuan dengan urutan siapa yang menerima Islam, seperti diskusi dalam al-Tabari vol.5 hal.80-87; vol.12 hal.38. Jika mereka tidak dapat bahkan mneyetujui pada kelima orang pertama, bagaimana mereka tahu tentang umur 21 tahun?
  2. Aisha tidak pernah beralih ke Islam, karena dia tidak pernah ingat waktu ketika Muhamad tidak dating dua kali sehari dan orangtuanyapun bukan Muslim. Hal ini sebelum migrasi pertama ke Etiopia (617 A.D.) (Bukhari vol.5 buku 58 no.245 hal.158)
  3. ‘Umar menjadi seorang Muslim setelah migrasi pertama ke Etiopia (617 A.D.) sesuai dengan Ibn Ishaq hal.155,156. Maka Ibn Hisham menghitung tentang “perpindahan”Aisha yaitu antara saat dia lahir dan diusia tiga tahun

Keberatan no.9: Menurut al-Tabari, delapan tahun sebelum Hejira, ketika Abu Bakr merencanakan migrasi ke Habshah, Aisha telah diikat untuk dinikahkan dengan Mut’am. Abu Bakr meminta Mut’am untuk membawa Aisha ke rumahnya, tetapi Mut’am menolaknya karena Abu Bakr telah menjadi Muslim. Sedangkan Aisha harus cukup umur untuk menjadi seorang istri delapan tahun sebelum Hejira. Referensi lain adalah  Tehqiq e umar e Siddiqah e Ka’inat, Habib ur Rahman Kandhalwi, Urdu, hal.38, Anjuman Uswa e hasanah, Karachi, Pakistan

Tanggapan untuk no.9: Walaupun sumber ini akurat, orang Arab baik dulu dan sekarang sering menunangkan anak gadisnya sesegera setelah kelahiran mereka. Abu Bakr mempunyai anak-anak perempuan lain dan itu mungkin salah satunya.


Keberatan no.10: Menurut ahli hokum Islam Ahmad ibn Hanbal, sebelum Aisha menikah, ia disebut dalam bahasa Arab seorang Bikr, yang berarti virgin atau seorang yang tidak menikah. (Musnad Ahmad ibn Hanbal, v.6, hal. 210, Arabic, Dar Ihya al-turath al-`arabi, Beirut.)

Tanggapan untuk no.10: Kata bikr berarti virgin dan tidak ada kekhususan umur. Jika ia sudah menjadi seorang nona muda, kapan Muhamad menunggu selama tiga tahun setelah menikahinya sebelum melakukan hubungan pernikahan itu? Juga, Bukhari vol.3 buku 48 bab.18 hal.513  mengatakan mereka menyebut seorang gadis adalah orang yang dewasa ketika ia mengalami periode bulanananya yang pertama.


Keberatan no.11: Ibn Hajar menceritakan bahwa Fatima, anak perempuan Muhamad, lahir ketika Muhamad berusia 35 tahun, yang mana anaknya adalah lebih tua lima tahun dari Aisha. Berarti Aisha berumur 15/16 tahun ketika melakukan hubungan pernikahan. (Al-isabah fi tamyizi’l-sahabah, Ibn Hajar al-Asqalani, Vol 4, hal 377, bahasa Arab, Maktabatu’l-Riyadh al-haditha, al-Riyadh, 1978)

Tanggapan unutk no.11: Sunan Nasa’I vol.1 #29 hal.115-116 sebenarnya mengatakan bahwa Fatima berusia 29 tahun ketika dia meninggal (enam bulan setelah Muhamad), yang mana membuat ia lebih tua sepuluh tahun dari Aisha. Maka beberapa orang lupa akan tanggal hal itu terjadi. Sunan Nasa’I otoritas hadist umumnya lebih dipercaya dari pada Ibn Hajar, tanpa memperhatikan, bahwa Aisha masih sangat muda.

Seandainya Hadist Sunni dan Sejarah Muslim awal benar adanya?

JIka hadist dan sejarah dipercayai, lalu Muhamad, sekitar usia 53 tahun, melakukan hubungan seks dengan seorang gadis berumur sembilan tahun.

Jika Muhamad tidak melakukan semua hal itu?

Mari kita asumsikan, bahwa beberapa neo-Muslim benar akan hal ini; semua sumber hadist dan semua referensi al-Tabarilah yang salah, dan Aisha bukan berumur 8 atau 9 tahun tetapi seorang remaja ketika Muhamad mengajaknya malakukan hubungan pernikahan. Jika hadist ini semuanya salah maka lalu ada empat pertanyaan untuk menanyakan orang Islam.

1. Apa yang dimaksud “Sunni” jika bukan tradisi Muslim pada hadist?

Apa yang membedakan Sunni dalam Islam? Hal ini yang mana siapa yang:

a) secara politik yang berpikir Abu Bakr, ‘Umar, dan ‘Uthman adalah orang yang benar

b) secara agama yang mempercayai Sunnah, atau tradisi dalam hadist adalah biasanya sah, dan setidaknya Allah pun tidak memberikan hadist untuk mengarahkan orang-orang untuk melakukan kesalahan karena Allah tidak akan mengakuinya.

2. Mengapa Allah membiarkan Hadist menyesatkan Umat Islam selama lebih dari 1200 tahun?

Perhatikan kelaziman yang telah disebutkan sebelumnya tentang pernikahan pada anak kecil sekarang ini di Nigeria dan tempat dimana Orang-orang Muslim tinggal, dan pengobatan yang mengerikan pada gadis yang beru saja mengalamai menstruasi tetapi terlalu muda untuk melahirkan. Tanpa diperhatikan apakah beberapa Muslim modern yang benar atau badan ilmu pengetahuan Islam yang benar, setiap orang setuju bahwa otoritas hadist pada Islam Sunni memberikan contoh tentang Muhamad melakukan hubungan pernikahan dengan Aisha ketika ia berusia 8/9 tahun dan masih bermain dengan bonekanya.

Jika semua apa yang ada di hadist salah, apakah anda setuju bahwa hadist ini memberikan contoh yang salah, dan memberikan dukungan untuk kebiasaan yang rumit ini?

“Allah adalah perencana/penipu terbaik”. Sura 3:54. Apakah tipuan ini salah satu rencana Allah, rencana Setan, atau apakah hubungan seks dengan gadis berumur sembilan tahun bukan suatu rencana?

3. Menurut orang Islam, Apa yang terjadi jika anda`mengikuti aliran yang salah?

Menurut hadist yang sama, Muslim akan dipecah kedalam 72 atau 73 aliran, dan dan mereka dengan jelas mengatakan bahwa semua akan pergi ke neraka kecuali satu.(Abu Dawud vol.3:4579-4580 hal.1290-1291; Ibn-i-Majah vol.5:3992 hal.312). Qur’an juga mengatakan melawan siapa saja yang memisah dan menjadi aliran lain dalam Sura 30:32. Jika hadist salah pada hal ini, dan mereka adalah setan yang mendukung kegiatannya yang menyeramkan ini, jika anda adalah seorang  Muslim Sunni, anda berada di aliran yang salah. Kesangat “Sunni-an” dari Islam Sunni telah

a) meyesatkan orang dengan mengerikan

b) menghukum orang Muslim yang berada dalam aliran yang menyesatkan. Jika orang-orang menemukan diri mereka berada di “aliran yang salah”, dan jika mereka ingin untuk menyenangkan Tuhan, haruskah mereka berubah dan meninggalkan aliran tersebut?

4. Mungkinkah jalan yang benar disebut sesuatu yang anda tidak harapkan?

Jika Islam Sunni adalah aliran yang salah dan konsekuensinya jika mengikuti contohnya yang buruk ada beberapa, apakah mungkin jalan yang benar bukanlah yang disebut Islam?

Empat Pertanyaan hanya pada Muslim tradisional

Setiap orang harus setuju bahwa hadist dan ilmu pengetahuan Islam yang luas keduanya di masa lalu dan masa sekarang mengajarkan bahwa Muhamad melakukan hubungan seks dengan seorang gadis berusia delapan atau sembilan tahun.

Disini ada empat pertanyaan, tapi pertanyaan ini hanya untuk orang Muslim yang mengajarkan bahwa hadist adalah sah dan benar.

1. Mengapa banyak pengajar Islam mengatakan hokum sariah Islam adalah baik, namun menyembunyikan bagian ini?

2. Ketika anda mengatakan bahwa Muhamad tidak pernah berdosa, apakah hanya berarti bahwa segala sesuatu yang ia lakukan dan memaafkannya anda tidak akan mengatakannya salah? Jika tidak, adakah perkosaan atau perilaku seksual lain yang akan anda hokum, jika Muhamad memberinya ijin dan melakukannya juga?

3. Mengapa banyak orang Islam yang hidup di Barat gagal untuk mengikuti pengajaran dari hadist? Apa yang mereka lihat yang mungkin anda tidak lihat?

4. Jika anda mengatakan pada orang-orang untuk mengikuti hadist, dan anda tetap atau memindahkan gambar orang-orang di rumah anda (termasuk TV), atau memakai warna kuning dan adalah laki-laki, pernahkah anda membaca banyak hal yang Qur’an dan hadist katakan tentang kemunafikan?

Untuk mereferensikan hadist melarang semua gambar baik orang atau binatang (termasuk TV dan foto) adalah:

Bukhari vol.3 buku 34 no.318 hal.180; vol.4 buku 54 no.447-450 hal.297-299; vol.8 buku 73 no.130 hal.82-83; vol.9 buku 93 no.646 hal.487

Sahih Muslim vol.3 buku 22 bab.5382 no.5246-5252 hal.1157-1158; vol.3 catatan kaki 2519-2520 hal.1160-1161

Abu Dawud vol.1 no.227 hal.55-56; vol.3 no.4913-1914 catatan kaki 4288 hal.1373.

Sunan Nasa’i vol.1 no.264 hal.240; vol.1 no.764 hal.471

Ibn-i-Majah vol.4 no.3359 hal.489; vol.5 no.3649-3652 hal.108-109

Sekitar akhir tahun 1960 ada aksi kekerasan di Arab Saudi ketika gambar orang-orang ditampilkan di TV.

Kesimpulan: Jangan memberi perhatian pada aliran tradisional, sampai anda menemukan aliran tradisonal yang konsisten. Jika anda menemukan aliran tradisional, lalu…

Kesimpulan Untuk Sunni tetapi bukan Islam Sunni

Untuk neo-Muslim modern yang melanggar hadist, disini ada empat pertanyaan lagi.

1. Apa arti kata “Sunni”?

2. Apakah Allah menipu pengikutnya selama berabad-abad?

3. Apa yang Islam katakan tentang hal-hal yang merupakan aliran yang salah?

4. Dapatkah cara yang benar menjadi sesuatu yang anda dapat lihat?

Kesimpulan: Banyak masa bahkan sejarah ilmu pengetahuan membuat kesalahan kecil, tetapi ini bukan keslahan yang kecil. Jika semua sejarah Islam ini mengatakan hal yang buruk tentang Muhamad, apa yang anda dapat percaya tentang Muhamad pada sejarah Islam? Namun jika Qur’an mengijinkan berhubungan seks dengan yang mana tangan kanan anda miliki…

Alternatif: Mengikuti Allah yang BenarThe

Tinggalkan tradisi yang buruk. Dalam kenyataannya, jangan taruh cinta dan kesetiaan anda dengan banyak tradisi. Carilah Tuhan. Walaupun orang Islam menghormati Taurat dan Alkitab, walau beberapa telah membacanya. Mengapa tidak membaca kitab injil dan lihatlah bagaimana perbedaan pengajaran yang diajarkan Yesus?

Tambahan: Budaya Lain

Tertullian, menulis sekitar tahun 200-240 A.D., menyebutkan bahwa orang barbar tidak “mengirim untuk kepentingannya” gadis-gadis sampai mereka berusia 12 tahun, dan laki-laki sampai berusia 14 tahun. Konteksnya disini adalah pertunangan dalam pernikahan, walaupun ada yang mencoba berargumen hal itu adalah hubungan pernikahan.On the Veiling of Virgins bab.11 hal.34. Sekarang 12 tahun dan 9 tahun lebih berbeda lagi, dan Muhamad melakukan hubungan pernikahan itu dengan Aisha lebih dahulu bahkan jauh sebelum orang barbar.

Referensi

www.AnsweringIslam.org adalah situs yang sangat ekstensif yang menjabarkan dan melawan banyak aspek tentang Islam.

Arbery, A.J. The Koran Interpreted Macmillian Publishing Co. 1955.

Ali, Maulawi Shr. The Holy Qur’an : Arabic Text and English Translation. Islam International Publications Limited. 1997 (Ini dipublikasikan dengannbantuan muslim Ahmadiah)

Awde, Nicholas translator dan editor. Women in Islam : An Anthology from the Qur’an and Hadiths. St. Martin’s Press 2000 (207 halaman). Dia hanya mengutip dari Bukhari, dan naifnya mengasumsikan bahwa Bukhari terdapat pada yang lain.

Badawi, Jamal, Ph.D. Gender Equity in Islam : Basic Principles. American Trust Publications. 1995.

Caner, Ergun Mehmet. Voices Behind the Veil. Kregel Publications. 2003 (218 halaman)

Hasan, Prof. Ahmad. Sunan Abu Dawud : English Translation with Explanatory Notes. Sh. Muhammad Ashraf Publishers, Booksellers & Exporters 1984 (tiga volume)

The History of al-Tabari. Ihsan Abbas et al. editorial board. Volume 1-11. SUNY Press.

The Holy Qur-an : English translation of the meanings and Commentary. Diterjemahkan oleh  ‘Abdullah Yusuf ‘Ali. Revised dan diedit oleh The Presidency of Islamic Researches, IFTA, Call and Guidance. King Fahd Holy Qur-an Printing Complex. (tak ada data)

Khan, Dr. Muhammad Muhsin (translator) The Translation of the Meanings of Sahih Al-Bukhari Arabic-English. Universitas Islam, Al-Medina Al-Munawwara AL MAKTABAT AL SALAFIAT AL MADINATO AL MONAWART. Tak ada data.Tak ada hak cipta..

Malik, Muhammad Farooq-i-Azam. English Translation of the Meaning of AL-QUR’AN : The Guidance for Mankind. Institut Ilmu Pengetahuan Islam. 1997.

Sahih Muslim oleh Imam Muslim. Diterjemahkan kedalam bahasa Inggris oleh ‘Abdul Hamid Siddiqi. International Islamic Publishing House. (tak ada data)

Sunan Ibn-i-Majah oleh Imam Abu Abdullah Muhammad b. Yazid ibn-i-Majah al-Qazwini. Diterjemahkan oleh Muhammad Tufail Ansari. Kazi Publications 121-Zutgarnain Chambers, Ganpat Road, Lahore, Pakistan. Hak cipta Seluruh dunia 1993 Zaki Publications Lahore Pakistan.

Sunan Nasa’i diterjemahkan oleh Muhammad Iqbal Siddiqi. 1994 Kazi Publications.

The NIV Study Bible : New International Version Zondervan Bible Publishers. 1985.

Categories: Indonesia Version
Tagged: , , , , ,